17 April 2015

Kanawa, Tempat Pelarian yang Menawan

2 komentar
Kanawa. Agak sedikit nuansa Jepang di dalam kata ini. Tapi Kanawa ini adalah nama sebuah pulau tropis di bagian barat pulau Flores. Kenapa namanya Kanawa? Entahlah.
Kanawa adalah pulau tak berpenghuni yang dibuka sebagai resort. Dengan jarak tempuh kurang lebih sejam dari pelabuhan Labuan Bajo menggunakan kapal (yang biaya sewanya sudah include dalam sewa kamar) keindahan pulau tropis dan bawah lautnya yang cantik sudah bisa dinikmati. Untuk bagaimana cara booking dan sebagainya gugling ya.. website bungalownya ada kok :p
 
kami merapat, kapten!

Kanawa beach and bungalow menyiapkan belasan bungalow dengan harga yang lumayan yaa.. pokoknya saya dapat di bungalow yang 3 meter di depannya adalah pasir putih dan laut warna turqouise.
Berenang dan menyelam bebas (baca: cuma 10 detik tahan napas dalam air) sudah bisa melihat ikan aneka warna yang super duper menggemaskan pengen digoreng dan digigit. lha! tapi serius ikannya bener menggemaskan, berenang di sekitar kaki kita sembunyi di terumbu karang, lalu muncul kembali seperti main petak umpet. bule-bule yang jago renang itu bisa berjam-jam snorkeling tanpa sedikitpun keluar dari air. sepertinya sudah tersihir sama alam bawah laut pulau Kanawa. selain berenang kita bisa main kano. Ada kano yang tertambat di dermaga kayu, sempat dicoba... dengan tali masih tertambat, renangnya cuma bisa di setinggi dada gini. horor juga kalau oleng dan nyemplung. Apalagi sempat ketemu baby shark asyik masyuk bermain hingga ke tepi. jadi kepikiran. buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. bayi hiu pasti main tidak jauh dari emaknya. T_T

 


 
Soal Matahari Terbenam.
Jawabnya cantiknya luar biasa!
Di Kanawa kita juga bisa melihat senja indah dengan dua cara; duduk selonjor di tepi pantai sambil bermain air atau mendaki ke atas bukit di belakang bungalow untuk melihat senja dan pantai sekaligus.
Saya memilih yang pertama. Dua kali bersenja-ria sambil selonjoran di pasir putih, laut yang tenang kadang pecah karena ikan yang loncat atau terbang, bunyi suara burung pulang ke sarang, sisanya ketenangan yang mengagumkan. terbatasnya jumlah bungalow membuat pulau tidak banyak dikunjungi, jadi bagi yang ingin menyepi di sini tempat yang pas. Apalagi dengan jaringan yang lebih banyak hilang ketimbang munculnya, kita dipastikan merdeka! Kanawa, tempat pelarian yang menawan. Yeah! Bye-bye kerjaan!

Soal Matahari Terbit.
Jawabnya indahnya minta ampun!
Bangun pagi, buka pintu kamar dan langsung disuguhi pemandangan yang seperti lukisan. Iya, lukisan. Lukisan Sang Pencipta. Matahari terbit semburat merah di ufuk timur dari balik Pulau Flores dan laut yang tenang seperti cermin yang memantulkan kembali bayangan langit.
Desah kehidupan dimulai dari timur menyentuh pulau Kanawa dengan lembut, tamu-tamu bungalow memulai tracking keliling pulau, ada yang mendaki ke atas bukit, ada yang langsung masuk ke dalam dunia laut, ada yang memutuskan untuk leyeh leyeh saja di balai balai depan kamar sambil menunggu breakfast.



tebak, sunset atau sunrise?
 
 
Selain laut dan pantai,  bukit di belakang bungalow ini juga banyak menyedot perhatian pengunjung untuk diakrabi. Pasalnya view di atas puncak bukit mampu menjangkau jauh dan menyeluruh. Pemandangan laut beserta isi pulau dan bungalow dapat dipantau dari puncak. Selain itu bukitnya ditumbuhi rerumputan khas pulau tropis, hijau menguning, bisa buat jadi latar foto yang unik.

 
Untuk ke Kanawa memang perlu disiapkan budget yang lumayan, khususnya cost untuk makan. Makan yang ditanggung bungalow adalah breakfast, lunch dan dinner dapat dipesan di restorant Kanawa dengan rate yang bisa dibilang mahal (teringat es teh segelasnya 35.000 IDR). glek.
Omong-omong sesoal restaurant, dinner kamu bisa jadi sangat romantis di sini. Makan malam di bawah terang bulan dan bintang, di bawah kanopi pohon almond yang digantungi lampion.. diiiringi suara laut. Syahdu.
ini narsis duluan sebelum tamu bungalow datang menyerbu makan malam

 
 
Karena sudah pernah bertemu Komodo di trip sebelumnya, kali ini memang khusus untuk leyah-leyeh di Kanawa saja. Pokoknya rest and relax. Sebetulnya Kanawa beach and resort juga menyediakan paket perjalanan ke pulau-pulau lainnya dengan tarif sendiri. Bisa untuk trip bertemu komodo juga.
Tapi beberapa teman yang sudah pernah ke Kanawa berkomentar setelah melihat postingan foto saya di sosial media, kata mereka Kanawa banyak berubah.
Ada benarnya juga sih. Tidak ada lagi tulisan 'Kanawa" dari bambu-bambu yang menjadi icon pulau ini, sebelumnya balai-balai juga ada disewakan hingga kemah dengan harga yang lebih terjangkau kantong pada pejalan hemat, menu makanan juga berenaka ragam, menu italiano yang dimasak langsung oleh koki Italy.. Apakah ada perubahan manajemen bungalow? I don't want to know. Just go and ask them www.kanawaislandresort.com
 
Yang penting pulau Kanawa sudah menjadi bagian indah dari sebuah cerita. Kanawa yang menawan.
 
 
with love from Kanawa. *kiss kiss*
 
 





 

17 Februari 2015

Reba; Upacara yang Penuh Sukacita

0 komentar
Adalah Reba sebuah tradisi upacara yang diselenggarakan secara turun temurun dari leluhur pada masyarakat Kabupaten Ngada khususnya di kecamatan Bajawa, Aimere, Jerebuu, Inerie, Mangulewa, Golewa dan sekitarnya. Upacara ini diadakan setiap tahun baru, tepatnya di bulan Januari atau Februari dengan tanggal yang berbeda di setiap kampung adat.


Tarian Ouwi
*correct me if i'm wrong
Tujuan upacara yang sering juga disebut pesta adat ini diadakan bukan semata hura-hura sambil minum 'moke' arak lokal yang sudah menjadi minuman khas di upacara adat di Flores dan menari, namun sebagai titik refleksi, kontemplasi serta reuni masyarakat. Reba dibuka oleh upacara doa sebagai penghargaan terhadap leluhur yang sudah lama tiada, serta  dilanjutkan dengan pembicaraan adat yang berisi masalah yang dihadapi selama setahun yang lalu juga rencana-rencana yang akan dilakukan setahun mendatang. Pembicaraan adat ini dilakukan baik secara umum maupun di dalam suatu keluarga yang sudah berkumpul dengan memminta petunjuk dari tetua adat ataupun tokoh agama.  Walaupun anak turunan sudah berpindah domisili di desa yang lain pada saat Reba diadakan mereka harus menghadiri prosesi yang setiap periodenya diadakan sekitar 3-4 hari.
Masyarakat Ngada selain sebagai pemeluk Katholik yang taat juga tetap menjunjung tradisi dan kepercayaan yang diturunkan oleh nenek moyang. Percaya bahwa nasib baik dan buruk yang timbul juga ada sebab akibat dari leluhur. Siapa yang melanggar ketentuan-ketentuana dat akan mendapat malapetaka dan siapa yang menjalankannya akan mendapatkan rejeki.
Sehari sebelum perayaan Reba dimulai, dilaksanakan upacara pembukaan Reba (su‘i uwi). Pada malam su‘i uwi dilakukan acara makan minum bersama (ka maki Reba) sambil menunggu pagi. Pada pagi harinya, ketika upacara berlangsung, para tamu disediakan makanan dan minuman yang sudah matang dan siap dimakan. Reba adalah open house se-kampung! Semua rumah disediakan makanan dan minuman dan membebaskan siapa saja untuk datang dan makan bersama dalam suka cita. selama Reba berlangsung dapur terus mengebul dan makasakan harus tetap ada untuk para tamu.
FYI, untuk yang Muslim jangan kecewa karena sebagian makanan yang tersedia adalah haram. Pengalaman saya mengikuti acara ini hanya makan nasi putih sebagai penghormatan kepada tuan rumah. Ada banyak pantangan, salah satunya tidak boleh menolak ajakan makan jika diundang oleh tuan rumah. Namun masyarakat sudah cukup maklum kalau tamunya hanya bisa makan nasi, dan mereka meminta maaf. Tidak ada paksaan untuk mengkonsumsi daging haram dan meminum 'moke'. Living in harmony, yeah! ^_^
 
antara nari antara takut parangnya kelepasan :'D
 

 Selama upacara Reba berlangsung diiringi oleh tarian para penari yang menggenggam pedang panjang (sau) dan tongkat warna-warni yang pada bagian ujungnya dihiasi dengan bulu kambing berwarna putih (tuba). Sebagai pengiring tarian adalah alat musik gesek berdawai tunggal yang terbuat dari tempurung kelapa atau juga dari labu hutan. Saya beruntung karena sempat diajak untuk menari dan dipinjamkan asesoris tarian oleh masyarakat Langa, saat berkunjung ke Reba di kecamatan Bajawa tepatnya di kampung Langa-sekitar 30 menit dari pusat kota Bajawa. Gerakan tarian maju mundur diiringi teriakan-teriakan penggembira dari bahasa asli Bajawa. Semua orang bersukacita di Reba. Makanan minuman melimpah, tarian, doa dihaturkan untuk semesta. Kalau berkunjung ke kabupaten Ngada di bulan Januari Februari silakan mampir menari di Reba


Uge kampung Langa ^_^
*uge artinya gadis*

 

04 Februari 2015

Bersukaria di Pantai Koka

1 komentar
Pantai berbentuk tapal kuda, pasir putih dan laut warna hijau kebiruan. Siapa yang tidak suka? Inilah Pantai Koka yang terletak di derah Paga, Kabupaten Sikka, Pulau Flores.
Jarak tempuh dari kota Ende kurang lebih 3 jam dengan menggunakan mobil. Lebih cepat kalau menggunakan kendaraan roda dua. Lebih gesit di tikungan tikungan maut sepanjang jalur trans Flores.
Ini adalah kali kedua bersukaria di pantai Koka. Pertama kali ke sana mesti hiking menuju pantai dari jalan raya Trans Flores Ende-Maumere. Lumayan menguras eneri, kurang lebih 2 kilometer dari jalan utama hingga pintu masuk pantai. Sekarang akses ke pantai sudah dipermudah dengan dibuatkannya jalan beraspal hingga ke pantai. Rupanya sudah diperhatikan oleh Pemda Sikka sebagai aset pariwisata.
Bukit yang memagari pantai




Akan tetapi retribusi masuk ke sana belum ditetapkan dengan jelas oleh pengelola. Tarif retribusi ditarik sesuka hati oleh pihak pengelola, baik itu tarif masuk, tarik sewa lopo hingga toilet umum.
Terlepas dari ketidakaturan itu semua, pantai Koka memang pantai terindah di daerah selatan Flores. Pasalnya di sepanjang jalur selatan Flores rata-rata berpasir hitam. Koka adalah pantai berpasir putih sehinga gradasi warna turkuis hijau biru lautnya jelas nampak. Pantai ini merupakan tempat piknik yang asik karena letaknya yang diapit oleh pebukitan di sisi kiri dan kanan seakan membuat pengunjung terjaga dari gangguan dari luar, akses menuju pantai hanya dari jalan utama yang sudah disediakan, Bukit-bukit ini memilik tebing yang terjal yang langsung bertemu laut. Dan bukit karang yang membentuk tapal kuda juga membagi pantai menjadi dua bagian, tinggal pilih mau main air di sebelah mana. hehe.


kelapa muda, ada yang mau?
Kalau waktu kunjungan pertama saya,  pengunjung mesti repot siapkan perbekalan piknik sekarang di pantai Koka sudah ada warung kecil yang menjual aneka makanan dan minuman. Kita bisa minum air kelapa muda sambil menikmati aroma laut lho! Harganya relatif terjangkau.


Ke pantai itu belum afdol kalau belum main air kan ya? Di sana tempatnya. Di dua sisi pantai Koka semuanya area aman untuk berenang, toh tidak ada tanda larangan, ya terkecuali musim gelombang pasang. Perlu hati-hati karena pantai selatan Flores memiliki arus laut yang lebih kuat dibanding pantai utara. Apalagi untuk kaum-kaum yang berenang pakai gaya batu, alias kalo nyebur langsung kelelep. *unjuk jari* jangan coba-coba bermain sampai ke dalam atau mencoba menaiki karang saat pasang surut karena pasang bisa tiba-tiba naik dan menarikmu ke tempat yang dalam.

Lumayan bersih pantainya 

Ini ekspresi pengen berenang tapi sedang tidak boleh berenang, you knowlah cewek...



Grufie Grufie Kita ^_^



11 Januari 2015

Guruku, Postinganmu!

0 komentar
Menjelang dini hari hilang kantuk gara-gara facebook. Dan saya rasa saya perlu menulis ini. Demi kebaikan saya dan yang lainnya.

Sebuah postingan foto oleh seorang guru di Ende, yang entah bagaimana berteman di fb tapi tidak saling kenal, bikin senewen. 
Tampak dalam foto 5 orang siswa sedang berlutut di luar kelas mengenakan seragam pramuka, ada yang memalingkan wajahnya dari jepretan kamera, ada yang menutupnya dengan tangan, ada yang pasrah menatap lurus ke depan. Foto ber-caption 'D keluarin' itu memaksa saya untuk ikut berkomentar dan menulis ini.
Saya benar-benar tidak tahu apa kesalahan siswa tersebut. Dan saya tidak sedang mencoba membela mereka.
Yang saya tidak setuju adalah perilaku guru tersebut menghukum lalu memposting di sosial media. Ini bukan soal gagah-gagahan bahwa pendidik berhak menghukum murid yang salah, atau mengikuti ajaran agama yang membolehkan hukuman sebagai didikan, melainkan bijak dalam mendidik serta menggunakan sosial media. 

Masih tidak mengerti dengan pilihan hukuman 'berlutut' lalu memposting dengan alasan biar jera, seperti guru tersebut beralasan di kolom komentarnya.

Jera? Jera dari mana???

Seseorang tolong jelaskan pada saya. 

Posting foto murid sendiri yang lagi dihukum itu apa tidak menyalahi UU ITE? 
Apa pelajaran apa yang didapat oleh siswa  tersebut, selain dari jenis cyberbully oleh gurunya sendiri? 
Apakah itu tidak menandakan kegagalan guru dalam mengatasi para murid? Apa tidak menandakan ketiadaan 'think before posting' sang guru?

Saya analogikan seperti dokter yang memposting foto pasiennya sendiri, pasien gagal setelah tindakan, tanpa disamarkan, bahkan (mungkin) tanpa izin si pasien. Kira-kira begitu. 

Sangat disayangkan.
Nah, bagaimana perasaan orangtua atau keluarga siswa yang melihat postingan itu? Sakit pasti iya. Saya yang bukan siapa-siapa saja merasa geram. 
Bahkan foto atau tayangan kriminal cilik di media massa saja disamarkan, ini anak sekolah yang mungkin sedikit nakal di sekolah disebarluaskan ke jejaring sosial layaknya tersangka pelaku kriminal. Sepertinya mereka tidak cukup dengan hukuman berlutut tapi perlu dihukum di dunia maya juga.


"Guruku. engkau penyuluh ulung.. pembawa terang, pengusir gelap..."
Jadi teringat pada bait-bait puisi yang dulu saya deklamasikan di Hari PGRI waktu duduk di bangku SD, saat guru-guru saya belum mengenal internet apalagi facebook. 
Guruku, postinganmu.
Betapa kasihannya dunia pendidikan jika hal ini terjadi dan berulang (semoga tidak). Betapa kasihannya saat guru guru di tempat lain menggunakan sosial media sebagai sarana interaksi bahkan belajar mengajar bersama muridnya sementara kita masih seputar posting foto hukuman.












older post