07 Februari 2012

Di Pantai Anabhara, hati saya tertinggal...


Ini  yang dikatakan kalau ada niat pasti ada jalan. Apalagi niat jalan-jalan! Memang betul hari minggu itu tanggal merah,  tapi tidak buat saya yang masih harus ngeronda dari jam 7 malam sampai jam 7 pagi. Meski cuma bisa tidur sekejap saja dalam  waktu tidak sampai 2 jam, saya tetap berkeras untuk ikut jalan-jalan Flobamora Community. Minta izin pulang lebih awal dan jam 6 saya sudah stand by di rumah, bersiap untuk jalan.

Jalan-jalan kali ini dengan destinasi Pantai Anabhara, sebuah pantai di kawasan utara Kabupaten Ende di kecamatan Maurole tepatnya. Member yang ikut ada encim Tuteh Pharmantara, kakak Ilham Hiwaman, Kak Shinta Diaz, Mas Sony, Armando,  kak Iros Tani, dan Chici Mawar bermobil  dan ada Sky Thedens juga Bastian yang menggunakan sepeda motor. Adalah ide dari kak Shinta Diaz yang sebelumnya pernah ke pantai Anabhar, langsung diaminin oleh cim Tuteh. Untuk ke pantai Anabhara bisa dijangkau dengan mobil dan sepeda motor. Dengan angkutan umum bisa dengan bis atau bis kayu (truk kayu yag disulap menjadi bis dengan dudukan dari papan) biasanya lebih murah dibanding angkutan umum biasa atau travel. :D

Perjalanan kali ini kondisi fisik benar-benar ngedrop, abis ngeronda, begadang, terus paginya harus bermobil selama 2 jam-an dengan rute trans Flores yang asoy geboy kelokannya. Lambung bergejolak, sepertinya tidak setuju dengan keinginan hati untuk menjejakkan kaki di pantai Anabhara.  Seisi mobil mulai membuat istilah baru pengganti kata muntah dengan’coklat’. Kode yang aneh. Tidak membantu untuk menghilangkan mual dan pusing. Kalau saya mungkin wajarlah mabuk perjalanan karena maag kumat dan kurang istirahat, lebih anehnya si Armando ini mabuk karena cium bau roti yang dimakan anak-anak di dalam mobil. *seperti ibu hamil muda yang suka ngidam yang aneh-aneh* Perjalanan aneh oleh member aneh dalam komunitas aneh, eh! *dirajam ibu ketua*

Kami melewati daerah dataran tinggi dan merasakan hawa sejuk saat di kecamatan Detusoko dengan padinya yang menghijau bersusun-susun indah menjadi terasering. Perjalanan semakin ke utara dan hawa sejuk tadi semakin tertinggal di belakang saat melewati kecamatan Welamosa, Wewaria, Ropa dan memasuki daerah pantai utara kecamatan Maurole. Kondisi badan jalan menuju pantura ini agak memprihatinkan, sudah jalannya sempit, lubang dimana-mana, digenangi air pula. Apa karena bukan jalan provinsi makanya kurang mendapatkan perhatian Pemerintah yah?
Kami sempat berhenti beberapa kali karena ada yang ‘coklat’ dan juga ‘panggilan alam’. Hahahaa.. terima kasih buat bapak-bapak Polisi yang baik hati di Polsek Maurole yang sudah membolehkan toiletnya dipakai *kalau dibaekin gini dipuji-puji* :p
Jam 07.30 start dari Ende tiba disana pada pukul 10.00. Cuaca hari ini sangat bersahabat, mengingat bulan Februari biasanya diisi dengan hari-hari yang basah. Sudah berjalan sejauh ini, sudah menahan mual dan muntah serta pening di kepala, harus bisa menikmati semuanya. Udara panas khas pantai utara Flores mulai terasa. Tapi hati semakin tak sabar Dan ajaib! Subhanallah! Seketika ketika menjejakkan kaki di pantai berpasir putih dan hamparan laut biru yang bersih dengan horizon langit biru nan cerah, semua capek, motion sickness dan ngantuk hilang. Yang ada hanya keinginan bersenang-senang. Bermain dengan waktu.


Flores is a hidden paradise! Banyak keindahan alam yang masih murni, tak terjamah pengelola untuk dijadikan asset wisata. Ibarat seorang gadis cantik tanpa polesan make-up.Salah satunya ya Pantai Anabhara ini! Cantiknya tidak kalah tuh sama pantai di pulau Dewata sana.

Sumpah! Saya jatuh cinta pada pantai ini. Jatuh cinta setelah saya bersusah-susah untuk menyentuhnya dengan kaki telanjang saya. Pantai yang masih perawan, cantik, bersih dan menenangkan.
Kami datang saat pasang naik jadi tidak bisa mendapati atol yang harusnya melingkar indah selepas pantai pasir putih dan laut tenangnya. Tapi kami tidak kecewa. Hamparan ciptaaan Tuhan di depan kami terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja dengan kekecewaan.
Di kejauhan tampak pulau Palue yang sudah masuk dalam wilayah Kabupaten Sikka. Teringat cerita tentang pulau itu saat tsunami tahun1992 menghempas pulau Flores. Sejak kecil terbiasa dengan pasir pantai hitam yang agak kotor di derah selatan Flores membuat saya selalu excited dengan pantai pasir putih yang bersih. Jatuh cinta. Benar-benar jatuh cinta. Rasanya tidak ingin pulang. Rasanya ingin membungkus pantai indah ini untuk dibawa pulang.

Karena tidak bisa dibungkus bawa pulang jadi kami mengabadikan semua keindahan pantai Anabhara dalam jepretan kamera masing-masing. Setelah sebelumnya makan siang ala kadarnya, nasi kuning yang dibeli di warung di pinggir jalan sebelum keluar dari kota Ende. Meski perjalan ini tanpa persiapan matang, air minum pas-pasan, cim Tuteh bawa seteko teh hangat tapi lupa membawa gelas. Benar-benar kacau, tapi seru. Si Bastian malah dengan cueknya minum pakai tangan *hueeks*
Panas sudah tidak kami hiraukan lagi, mau gosong ya gosong deh. Sesi pemotretan berjalan seru dengan pose gila-gilaan. Dasar narsis semuanya.
Hingga waktu juga yang harus menyeret kami untuk pulang.
Tapi sebagian hati saya masih tertinggal di pantai Anabhara. Berharap suatu saat bisa kesana dan mengambilnya kembali. Mungkin bersama orang terkasih :D *ngarep!* *disiram pasir pantai*



6 komentar:

hamdan andankji mengatakan...

rasa-rasanya hatiku ikut tertinggal ....

ika mengatakan...

apa e... kau nganga skli by titien....

a! mengatakan...

akhirnya bisa komen juga setelah sejak bulan lalu tak bisa2. :D

ntar ajak aku main ke sini ya kalo ke ende lagi. :)

fauwzya mengatakan...

ika: hoii... sapa yang nganga endawenga :p

a: sipp.. siap jadi guide :D

mardee w mengatakan...

subhanallah... cantik!
*pantainya

fauwzya mengatakan...

hiyah... pantainya memang cantik
pemilik blognya jugah!
:p

Posting Komentar