24 April 2012

Think Before Posting: Pencerahan dari Internet Sehat

8 komentar

Think Before Posting!
Kalimat simple tapi bermakna dahsyat. Tentu semua orang berpikir sebelum posting. Tapi belum tentu semua pikiran itu menyangkut akibat yang akan ditimbulkan.
Sebagian besar hanya berpikir untuk menuruti kata hati yang penting segala unek-unek dikeluarkan. Menulis di social media sesuka hati lantaran disana tertulis ‘what’s on your mind?’ ‘what’s happening?’ dan lain sebagainya.

Sabtu, 21 April 2012 bertepatan dengan Hari Kartini ada Seminar bersama  Flobamora Community (Komunitas Blogger NTT), Internet Sehat, dan LKUF. 
Setelah sibuk-sibuk dengan kepanitian dan urusan konsumsi saya merasa tertarik untuk turut masuk ke dalam aula. Sayangnya saya hanya bisa mengikuti materi terakhir di acara seminar, kebetulan materi dari Kang Asep Syaripudin dari Internet  Sehat.
Menarik sekali bagi saya, mengingat selama ini pengguna social media disini−seperti kata Kang Asep, anak Alay dengan gaya tulisan yang sudah kita ketahui bersama huruf besar kecil dan angka serta symbol bercampur menjadi satu, belum lagi gaya foto. Selain itu banyak yang mementingkan banyak jumlah teman di social media, berapa banyak komen yang ia peroleh tanpa memikirkan dampak dari tulisan, foto atau video yang mereka muat ke social media.
Lantas saya berpikir ke belakang. 

Deg!
Saya pernah alay.
Mungkin dengan asal upload konten ke social media. Atau menulis yang tidak membawa hal positif.
Apalagi ketika Kang Acep bertanya, “Siapa disini yang akun Facebooknya disetting privacy-nya?”
Tiba-tiba saya mengangkat tangan sekalipun tidak tinggi sih. Cuma ada saya seorang di pojok belakang.

Malu.

Akun saya diprotek setelah beberapa kejadian yang bagi saya mengganggu.
Sebelumnya album foto saya yang tidak diprotek, padahal data lain diseting privacy-nya. Mungkin ini juga akibat dari kecerobohan saya sebelumnya, menerima pertemanan lantaran mutual friendsnya banyak. Dan saya suka foto-foto. Tapi kalau foto model anak alay itu sudah jauh jaman dahulu. Sudah pensiun dari situ. Alhamdulillah. Sekalipun kata Kang Acep lagi, “Anak Alay itu mandiri lho, mau foto dari ketinggian 100 meter dia bisa sendiri….”
(Tidak mau mandiri ah, mau manja saja. Minta difotoin. Eh?!)
Mengingat bagaimana foto saya diambil sama teman Facebook yang entah bagimana mendapatkan kontak handphone saya dan mengirim MMS yang berisi foto saya, saya. Dan kejadian lain, temen dari teman saya, menemukan foto saya jadi wallpaper teman dari temannya. Ah, ribet. Pokoknya foto saya sudah diambil tanpa izin. Padahal sebelum-sebelumnya saya berpikir ini dalam album saya adalah milik saya, terserah saya mau upload apa, toh juga saya bukan artis atau orang terkenal atau orang cantik yang fotonya layak diambil. Ternyata saya salah besar.
Think Before Posting, itu yang terbaik!
Berpikirlah sebelum menyesal :D

Aniwey, thanks sangat untuk Internet Sehat yang saudah berani datang ke Ende. Sekalipun ‘kepolosan’ kami yang mungkin membuat Kang Acep, Mbak Dewi atau Mas Tjatur jengah, tapi itulah kenyataan kami disini. Setidaknya dengan adanya kegiatan seperti ini pemikiran kami di sini menjadi lebih tercerahkan. Kapan-kapan ke Ende lagi yah, Internet Sehat.

18 April 2012

Sebait Senja -7-

0 komentar
Kau lari ke pantai untuk menemui senja

Kau berteriak dan memaki rindumu

Kau mengguling kaki celanamu, mendorong perahu

Dimana kau akan menjala?

Kembalilah ke daratan, karena rindumu ada disana

Ia menunggumu di layar kotak yang membisu
 
Kirimlah pesan untuknya.

.......



17 April 2012

Sebait Senja -6-

0 komentar
Senja bisu di antara aku dan kamu

Hanya hening

Hanya kerutan kening

Tiba-tiba hatiku membiru

Rasanya ingin berlari ke pelukmu

.....



16 April 2012

Sebait Senja -5-

0 komentar
Kau yang berkawan dengan senja

Kulihat luka lama di hitamnya mata

Bolehkah aku datang

sekedar menyodorkan secangkir kopi?

Ku harap komposisinya ngena di hati

.....


15 April 2012

Sebait Senja -4-

0 komentar
Tentang kesendirian di batas senja

Selalu ada rindu yang menyapa

Entah datang darimana

bayangmulah yang terpantul di warna jingga 

.....



14 April 2012

Sebait Senja -3-

0 komentar
Kaulah pendar jingga di senja tanpa nama

Hadirmu seperti kata cinta di dahaga aksara

Jangan dulu hilang

Malam belum menggantikan petang
.....

 




13 April 2012

Sebait Senja -2-

2 komentar
Katakan bagaimana bisa kau mencuri jingga dari senjaku??

Dan kau lari di saat langitku kelabu

Padahal disanalah kutitipkan hatiku untukmu


12 April 2012

Sebait Senja -1-

0 komentar
Senja masih merona di batas cakrawala

Saat kau tinggalkan sepi dan airmata

Terimakasih

karena kau pernah mengajarkan bahagia

Ku rasa tidak ada gunanya memendam bara

Pergilah, 

dan kelak kau akan menemukanku dalam tawa