27 Agustus 2012

Maurongga, Pantai Berongga

4 komentar




Libur lagi. Pantai lagi.
Laut memang sama tapi pemandangan pantai beda. Karena itu tidak pernah bosan ke pantai. Santai di pantai. Begitu banyak pantai cantik di Flores, dan banyak juga yang tidak diketahui.
Kali ini atas rekomendasi kaka Afhiek, seperti biasa tukang jalan encim Tuteh, saya, Mas Yery dan kaka Afhiek sebagai guide menuju pantai Maurongga. Lagi-lagi jalan-jalan selepas ronda semalaman jadi yah menunda ngantuk demi pantai.

24 Agustus 2012

Senja dan Dua Bule Belanda

3 komentar

Entah kenapa saat itu saya ingin menikmati senja sendiri di Pantaria, padahal beberapa teman available untuk diajak sekedar nongkrong menikmati senja.
Senja sudah tua dan hampir tenggelam saat 2 bule berkewarganegaraan Belanda itu datang. Mereka tidak mendapat tempat duduk, jadi saya menawarkan tempat duduk panjang―terbuat dari semen―yang saya monopoli sedari tadi.
Kami berkenalan, si Ibu berusia 55 tahun bernama Katharina dan anak lelakinya yang berusia 22 tahun bernama Oliver. Dia janda yang suaminya meninggal karena kanker esophagus.
Dengan bahasa Inggris saya yang jatuh bangun aku mengejarmuuuu.. halah! Kok jadi dangdutan! Pokoknya parahlah, kami ngorol banyak hal dan saya juga tidak menyangka kami akan dekat, berlanjut ke acara belanja-belanji di pasar esoknya dan singgah di rumah saya.
Mereka bertanya macam-macam mulai dari korupsi. Saya malu. Sangat malu. Pertama kali bisa ngobrol lama sama bule dan sudah merambah ke berbagai topic yang bagi saya seperti tamparan halus tapi terasa perih.

Mereka bertanya bagaimana bisa terjadi banyak kasus korupsi di Negeri ini? Bagaimana ribetnya urusan birokrasi di Negeri ini..

Mereka bertanya tentang agama, tentang Muslim di Flores, di Indonesia dan pendapat saya tentang Muslim umumnya. Terutama karena mereka melihat saya memakai Hijab.

Mereka bertanya bagaimana kita bisa dengan seenaknya membuang sampah di sembarang tempat? Tidak adanya fasilitas kebersihan seperti tempat sampah di public place? Dan kalau pun ada, yang mereka amati kebanyakan tong itu kosong! Kosong dalam artian yang sebenarnya. Apakah orang Indonesia segitu malasnya melangkah beberapa meter ke tempat sampah?
Merokok di sembarang tempat? Mereka menyelam di Bali dan melihat sampah plastic terapung dan tenggelam tersangkut di karang. Katharina yang 2 tahun ini pulang pergi Belanda Indonesia hanya untuk mendalami tenun ikat. Lama tinggal di Bali membuat ia mengerti bagaimana orang Indonesia dan Pemerintahannya. Dia bercerita bahawa dulunya sebelum suaminya wafat, ia dan suaminya mengupayakan pengendalian sampah dengan mengajak masyarakat sekitar mencontohi apa yang mereka lakukan. Mereka mengadakan tempat sampah tapi sama sekali tidak seperti yang mereka harapkan. Mereka cerita tentang sampah di samudra Pasifik yang sudah membentuk pulau besar dan sampah di Bali. dan mereka kaget ketika saya sudah pernah membaca tentang itu. ketika esoknya saya menemani mereka belanja, Katherine menolak plastic bag untuk membungkus bibit terong yang ia beli di toko pertanian. Dia mengatakan sedari kecil mereka dibiasakan dengan tidak membuang sampah di sembarang tempat. Pemerintah mereka juga mendukung dengan memberikan punishment atau hukuman bagi orang yang sembarangan membuang sampah.
Ini yang saya suka dari Western culture! Keteraturan, disiplin waktu dan kebebasan berpendapat.

Mereka juga bertanya tentang malaria, karena selama mereka travelling berjumpa nyamuk di mana-mana. Mereka tidak tampak kaget ketika saya mengatakan di sini aerah epidemic. Mereka bertanya tindakan preventif apa saja yang sudah kami lakukan. Di sinilah saya tahu kalau kelambu itu dari Bahasa Belanda. Ketika mentok tidak bisa mencari vocab kelambu dalam bahasa Inggris. LOL.

Katharine orang yang talkactive. Dia mengeluhkan bagimana mereka naik bis kayu―truck kayu yang dimodifikasi diberi tempat duduk untuk mengangkut penumpang serta barang. Dia heran, bagaimana music dengan volume keras di bagian bak untuk penumpang yang memekakkan telinga dan tidak seorangpun yang memprotes.
Mereka mengatakan bagaimana kita tidak memprotes atas sesuatu dan lebih banyak menerima sebagai sesuatu yang normal.
“People here, especially the girl are crazy about mobile phone, everywhere, in the bus, road they keep touch the gadgetKatherine said. Hadeh! Untung selama ngobrol dengan mereka saya menyimpan Blackberry di dalam tas. Padahal sebelum mereka datang, duduk manis dan ngobrol, saya asyik dengan gadget dan menyampah di twitter sambari menunggui senja.

.
Oliver suka makanan Indonesia, dia suka Nasi Campur dan Sate Ayam, jadi malam itu saya mengantar mereka ke warung Arema dan ditraktir. Hihii sate ayam lekker!
Mereka mengikuti saran saya membeli Kue Rambut dan mereka suka di pasar Ende. Lekker!
Katharine sangat talk active dan keibuan, dia juga menanyakan miscellaneous and girl things! Oliver manis sekali, dia menjelaskan banyak hal tentang Belanda, bagaimana system pendidikan dan study yang baru saja kelar di jurusan design product. Oliver kaget ketika saya bilang saya seorang blogger. Dan dia langsung menyodorkan kertas, meminta alamat email dan blog.
Mereka juga tidak menyangka saya seorang perawat. Dan hey, Katherine yang hanya bertemu saya sekejap itu langsung “But I thought you better in fashion, so what color do you like? Black?
Ah, ibu bule ini asyik sekali! Dua selendang tenun ikat Ende saya kalungkan untuk dia dan anak laki-lakinya ketika mereka berkunjung ke rumah.
Banyak  yang kami diskusikan dan rasanya saya suka mereka. Bule paling baik yang pernah saya temui.
Semoga bisa ketemu mereka lagi :D

13 Agustus 2012

Persahabatan Itu Sederhana

6 komentar

Reuni? Buka puasa bersama? Siapa yang tidak suka?!
Bertemu dan berkumpul bersama teman lama siapa yang tidak bahagia?!

Mungkin istilah teman lama terlalu gimana gitu….

Bagi saya sih tidak ada teman lama, karena pada dasarnya sih teman yang sudah akrab akan selalu jadi teman, tidak peduli lagi berapa lama hubungan pertemanan itu. Kata lama hanya akan mengkotakkan kita pada hubungan masa lalu, usang dan mudah tergantikan sama apa yang disebut something or someone new. Tapi saya juga tidak memungkiri old shoes is comforter in our foot than the new ones. Even the new one’s looking pretty good, fresh, shining and sparkling but the old ones has been proven by the time. After all, the new one is going to be old, someday.   

Persahabatan di dan dari masa SMA adalah hubungan persahabatan terkuat dan terawet. Percayalah. Lebih kuat dari persahabatan di tingkat pendidikan manapun.
Kami bertemu teman yang lain, lingkungan lain, kesibukan lain, kisah cinta lain, tapi ketika bertemu kami adalah kami yang sama seperti dulu. Seperti kami yang berseragam abu-abu.
Ah, betapa SMA masa yang benar-benar indah. Manisnya terasa sampai saat ini. Melekat dalam persahabatan kami yang kian erat. Di sela kesibukan kami, pekerjaan, organisasi, kuliah, keluarga, kekasih, selalu ada waktu untuk hubungan persahabatan ini. Mungkin karena kami belum berkeluarga.. entahlah. Semoga saja meskipun sudah berkeluarga, persahabatan tetap terjaga.