17 Oktober 2012

Kami Peduli Wologai

0 komentar
Kampung Adat Wologai 19/2/2012
Kampung adat itu terbakar. Habis. Tak tersisa.
Lalu teringat cerita, beberapa bulan lalu rumah-rumah itu dan kami dijepret dalam kamera. Rumah kayu berukir, beratap rumbia. Peninggalan budaya yang kaya, lenyap seketika.

Waktu itu hari Selasa, tanggal sembilan bulan sepuluh. Siang berangin dan matahari mengobral tanpa jenuh, api merubah kayu menjadi abu, dan airmata warga Kampung Adat Wologai jatuh.

Sembilan belas rumah tinggal nama. Ya, rumah-rumah itu punya nama. Sa’o Bhena, Sa’o Rini, Sa’o Wolomena, Sa’o Nua Ro’a, Sa’o Wologhale,  Sa’o Ana Lamba, Sa’o Kisu Roja, Sa’o Lobo, Sa’o Sokoria, Kedha… ah, ingatanku begitu buruk, teman. Di sana, delapan puluh satu jiwa menunggu ungkapan peduli kita. 
Empat puluhan milyar hilang, belum lagi benda adat yang sudah tidak terbilang dalam uang.  Dapat kah kau bayangkan, teman?

Tidak peduli orang kota atau orang desa, ini asset bersama. Tidak perlu harus uang berjuta untuk bisa menunjukkan cinta.

Kami peduli dan mereka butuh aksi. Selama tiga hari menyebar berita, memprovokasi biar lebih peka, ‘mereka di sana saudara kita, berikan cinta, sedikit tak mengapa, akan banyak bila bersama’.

Lalu cinta terkumpul dalam berdus-dus pakaian bekas layak pakai, keperluan mandi mencuci, makanan, obat-obatan dan amplop berisi uang.  Terima kasih untuk kalian, kalian pasti Tuhan sayang.

Hari Minggu, tanggal empat belas bulan sepuluh, kami luluh. Di hadapan puing hitam dan abu yang tak sempat kami sentuh, kontemplasi dan memori bersetubuh.
Berapa lama lagi kami akan bertemu rumah-rumah berporos Tubu Mbusu di tengah ranah…

Flobamora Community dan teman-teman peduli Wologai,.

Kampung Adat Wologai Pasca Kebakaran 14/10/2012









Penyerahan Bantuan Pada Kepala Desa Wologai