30 November 2012

Day 8: Senja Teddys dan Malam Tahun baru

0 komentar


Tidak dapat menjerat senja di Pantai Losari membuat saya berjanji, di Kupang harus bisa mendapatkan senja cantik.
Maka sore itu, Mbak Rara mengajak saya ke pantai Teddys, Kupang. Pantai Kupang yang umumnya dikenal dengan nama Pantai Teddys ini terletak di kota Kupang, termasuk kawasan padat karena merupak area pertokoan.
Pantai Teddys tidak seluas wisata pantai yang seperti kalian bayangkan, di sana hanya berupa anjungan beton dan dua dermaga kecil. Dua dermaga kecil itupun biasa saja, pagar besi sebagai pelindung pun tidak utuh lagi, sampah masih juga betebaran di mana-mana.
Bila pasang sedang surut akan tampak pasir hitam dan karang, di sisi baratnya pantai ini dibatasi oleh semacam bukit kecil yang menjorok ke laut,timurnya dibatasi oleh bangunan ruko yang pondasinya menancap hingga ke area pantai Setiap sore selalu ramai di Pantai Teddys. Pedagang jagung bakar, minuman, camilan dll meraup keuntungan dari keramaian itu.

Pantai yang terletak di Kelurahan Solor itu tidaklah luas, pantainya pun biasa saja. Entah apa yang membuat orang ramai-ramai ke sana. mungkin karena berada di area pertokoan yang ramai, orang-orang yang kelelahan belanja kemudian mampir ke sana, menikmati angin sepoi-sepoi dari laut Sawu, menatap semburat senja di ufuk barat sambil menikmati jagung bakar. Remaja kota Kupang sore itu tampak ramai memenuhi dermaga kecil dan bangku-bangku pedagang makanan.



Ini termasuk kali kedua saya ke pantai Teddys ini. Pedagang dan pengunjung lebih banyak disbanding kunjungan saya sebelumnya. Setelah puas menjepret senja, saya dan Mbak Rara ikutan mencicipi jagung bakar, berapa lama kemudian bergabunglah Om Gusti Brewon dan Kak Egon. Waw! Sedikit belajar tentang fotografi dari kak Egen yang ternyata membantu Mirles dalam pembuatan film Atambua 39 derajat.
Yah, malam turun dan pantai Teddys masih juga ramai. Di depan sana, di kegelapan laut ada ramai titik cahaya dari lampu perahu nelayan. Begitulah. Semoga dengan adanya Sail Komodo 2013 nanti dan pantai Teddys sebagai persinggahan, pemerintah Kupang bisa mendandani pantai ini dengan lebih baik.


Dari Teddys, kami merapat ke Masjid Al Baitul Kaddim, Airmata-Kupang. Mengikuti acara pembukaan lomba dalam rangka menyambut Tahun Baru Hijriyah.
Dari Mbak Rara, saya akhirnya tahu bahwa di sana adalah awal mula Islam berkembang di Kota Kupang, kemudian berkemban hingga ke Kampung Solor yang merupakan kawasan dengan orang Islam terbanyak. Pantas saja banyak juga warga muslim yang hadir di malam itu. malam pembukaan itu diisi dengan mata lomba nasyid dari remaja masjid di sekitaran kota Kupang, hari berikutnya akan ada lomba fashion show.
Malam Tahun Baru Hijriyah di Kupang lumayan ramai, di Ende  juga biasanya akan ada acara-acara dari remaja masjid dan ibu-ibu pengajian. Intinya dari semua acara itu adalah kaum muslimin bisa berhijarah ke arah yang lebih baik.


Selamat Tahun Baru Hijriah, Teman!


   

Day 7: Sasando, From Ancient To Future

2 komentar

Selasa pagi, kami pulang menuju Tana Flobamora.
Ayu yang sudah berbaik hati memberikan kamar kosnya untuk kami tempati juga menyiapkan sarapan. Adik kelasku semasa SMA yang sudah menyelesaikan pendidikan S1keperawatannya itu, mengantar kami pulang hingga ke depan kosan. Lalu pukul 07.00 taksi meluncur menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Ternyata di dalam ruang tunggu gate yang sama ada si Sanjaya, dia pun keluar menemui kami yang belum diizinkan masuk ke dalam ruang tunggu. Astaga! Si Sanjaya narsis gila. Masih sempat-sempatnya ngajak foto sana sini.
Tidak berapa lama kami diizinkan masuk ke dalam ruang tunggu. Sanjaya terbang ke Mataram. Dan kami terbang ke Kupang yang mana adalah ibukota dari Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Tarian Kontemporer Dari Sanggar Lab Taman Budaya

Penerbangan Makassar- Kupang memakan waktu hampir 2 jam. Nusantara mendarat mulus di bandara El Tari Kupang. Udara panas khas kota Karang ini langsung menyambut siapa saja yang baru turun dari pesawat.
Kami menyewa taksi seharga 60.000 ribu rupiah yang mengantarkan kami ke daerah walikota. Di sanalah kami akan menyewa kamar kos untuk ditempati dari selasa hingga sabtu nanti. Hasil kongkalikong antara kak Greg─teman encim, dan Encim Tuteh dapatlah sebuah kamar baru dengan sewa seharga 500.000 rupiah. Lumayanlah.

Namanya Rara. Ambara Saraswati. Dan saya mngenalnya dari social media berlogo burung itu. ya, twitter. Di sinilah indahnya persahabatan dunia maya yang kemudian menjadi nyata. Mbak Rara menjemput saya di kosan. Kami akan mengikuti Festival Musik Sasando.
Para Pemain Sasando

 Sasando adalah alat music NTT yang terbuat dari daun lontar. Pohon lontar itu sendiri hanya tumbuh di daratan pulau Rote dan sebagian kecil pulau Timor. Festival Musik Sasando bersama Dwiki Dharmawan Orchestra ini menghadirkan 100 pemain Sasando yang didatangkan langsung dari Pulau Rote, pulau terselatan Indonesia.
Bertempat di Aula El Tari, konser music sasando dengan tema: From Ancient To Future itu di buka oleh Bapak Gubernur dan juga Bapak Wamen Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.  
Konser music itu menghadirkan 100 pemain Sasando dari pulau Rote, juga diramaikan oleh tarian-tarian kontemporer dari sanggar  tari Taman Budaya, Vocaliesta Kmanek Choir pimpinan Elias Joka, special guest Putri Ayu, Ivan Naestorman, Ita Purnamasari, Inggid Wakano dan Dwiki Darmawan world peace ensemble .

Gubernur NTT dalam sambutannya menjelaskan bhawa sejak tahun 2008 NTT sudah mulai menyelenggarakan acara serupa, tahun 2010 juga pernah menghadirkan konser music Sasando bersama Dwiki Dharmawan. Gubernur juga mengusulkan agar Konser Musik Sasando ini dimasukkan dalam kalender event nasional. Dan beliau juga berharap kalau boleh event nasional itu diadakan pada bulan November, Kupang sedang berwarna jingga karena rimbun bunga flamboyan yang bermekaran di mana-mana. Promosi yang bagus, Pak Gubernur!
Malam itu juga disebutkan potensi-potensi wisata NTT yang bisa  menjadi potensi wisata kelas dunia, selain Komodo ada  Danau Kelimutu, Pantai Nembrala yang termasuk spot surfing terbaik, Gugusan 17 Pulau di Riung, Kampung Adat Wai Rebo, Wisata Bawah Laut di Pulau Alor, dan masih banyak lagi.
Diharapkan wisata NTT bisa lebih berkembang lagi dan mendunia. 

Ivan Nestorman membawakan Benggong

Konser yang spektakuler itu berlangsung kurang lebih 4 jam. Konser tanpa tiket masuk alias gratis itu menarik banyak minat masyarakat dan wartawan media.
Yah, meski dalam gedung gaung music Sasando dari 100 pemain itu sendiri tenggelam dalam suara orchestra Dwiki D. Penampilan para penyanyi secara keseluruhan menarik. Saya suka waktu Ivan Naestorman membawakan Benggong, salah satu lagu dari daerah Manggarai, asal dari penyanyi itu sendiri. Feelnya dapat banget dibanding penyanyi lain! Benggong yang berirama up beat itu membuat penonton meninggalkan tempat duduknya dan bergoyang. 

Semoga dengan adanya Festival seperti ini Sasando tidak hanya dikenal sebagai alat music dari Rote, atau NTT saja, tapi juga dikenal oleh seluruh penduduk Indonesia dan seluruh dunia. Ya siapa tahu bisa diakui UNESCO dan menjadi warisan budaya dunia.

Bae Sonde Bae Flobamora Lebe Bae

Day 6: Jalan-Jalan Serunya Geng Sederhana

0 komentar

Taman Nasional Bantimurung ini dipahat di bukit karst

 Wisma Depsos Jalan Perintis, Makassar itu masih menampung para penghuni terakhir dari Blogger Nusantara. Masih ada saya, encim Tuteh, Mbak Anazkia, Mbak Lutfi, Isnain, Bang Bradley, Mas Kiki.
Tapi hari ini kami akan check out dari wisma dan akan menjelajahi wisata Makassar berdasarkan info-info dari Komunitas Makassar Backpacker dan Jalan-Jalan Seru Makassar, kecuali Isnain dan kak Kiki. Mereka berdua harus pulang siang harinya.Sebelum meninggalkan wisma akan akan menjadi kenangan itu kami sempat foto-foto narsis ala Penghuni Terakhir. Tetiba sedih. Kapan lagi bisa ngumpul hore seperti ini…

Sambil menunggu jemputan dari Daeng Ipul, kami sarapan di café depan wisma. Ceritanya hari ini kami menyewa mobil dari Komunitas Jalan-Jalan Seru Makassar dengan harga miring. Heheehe.. Dan daeng Ipul yang sepertinya tidak pernah kelelahan masih mau menjadi driver dan guide untuk kami.
Bantimurung! Ya, ini tujuan pertama kami.
Wisata alam di Taman Nasional Bantimurung itu berjarak kurang lebih 50km sebelah utara kota Makassar. Bantimurung terketak di Kab. Maros. Pukul sepuluh lewat kami berangkat. Perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam lebih membelah jalanan Makassar yang sudah panat dan dipadati lagi oleh baliho-baliho pemilihan pejabat ini itu lalu menyusuri jalanan kabupaten Maros.


Akhirnya tiba juga. Sebuah kupu-kupu raksasa menyambut kami di gapura. Khas Bantimurung yang memang terkenal sebagai kerajaan kupu-kupu.  Di pelataran parkir terdapat banyak yang jualan cinderamata berupa gantungan kunci, kalung, hiasan dinding semua dengan bahan kupu-kupu yang diawetkan.
Biaya masuk ke dalam wisata air terjun dan gua Bantimurung itu 15.000 rupiah per orang. Tidak ada perbedaan tarif masuk dewasa dan anak-anak.  Cuma ada perbedaan tariff wisatawan domestic dan mancangara.

ayo, dipilih-dipilih! buat oleh-olehnya mbak, mas...


Air terjun Bantimurung siang itu lumayan ramai, padahal hari senin. Air terjun itu tidak tinggi dan juga tidak dalam sungainya. Kupu-kupu warna warni ramai terbang berseliweran  di antara manusia. Pohon-pohon tinggi. Di sana sini ada penyewaan tikar, ban pelampung hingga baju ganti untuk berenang. Cuaca cukup panas tapi berada di tepian air terjun dan sungai cukup adem. Sambil menikmati camilan yang kami bawa dan kupu-kupu cantik. Okelah untuk melepas penat. Anak-anak heboh berenang dan main ban. Saya hanya memilih untuk tetap ‘stay dry’, jadi hanya eksyen-eksyen foto narsis di depan air terjun, bahkan bergaya ala foto prawed bareng Bang Bradley. Hihiii..
gaya kita udah oke kan? :p

Keputusan encim Tuteh untuk tidak ikutan tracking ke gua Bantimurung adalah bijak. Encim hanya ingin tidur di bawah pohon di pinggiran air terjun, dialasi sebuah tikar pandan. Bisa sekalian jadi penjaga barang kami. Muehehee. :P
ternyata tracking ke gua lumayan memakan tenaga, teman! Tangganya cukup membuat saya yang cuma sarapan tiga tangkup roti ngos-ngosan. Sebelum masuk kami menyewa sebuah senter seharga 10.000 rupiah. Masuk ke dalam gua yang gelap memang menyeramkan jika tanpa cahaya. Itu lho jebakan batman, bisa saja kaki masuk dalam cerukan lantai atau dasar gua yang tidak rata. Seorang guide menjelaskan pada rombongan keluarga besar, kami mencuri-curi dengar, ada batu yang menyerupai kaki gajah, ada batu cari jodohlah. Wah, menjual sekali bapak ini.. kalau soal jodoh gitu jombloers dan galauers akut pasti heboh!

jalan menuju ke gua Bantimurung

Jalur trakcing antara gua dan spot air terjun berada persis di sisi aliran sungai. Dari sana bisa melihat jalur rafting. Tapi hari itu tidak ada yang rafting. Hanya ada sungai biru kehijauan yang pagari tebing tinggi dan beberapa betugas yang membersihkan sampah, beberapa lagi menyetrum udang. Seorang ibu menawarkan nasi dalam kotak mika, seperti dipandu, sama-sama kami menolak. Leang-leang masih menunggu kami.
Gua Bantimurung

Masih di Kabuaten Maros, dengan karcis masuk 10ribu kami diantar oleh seorang pemuda sebagai guide menuju gua. Pertama kami diantar ke Leang Pettakere. Leang itu sendiri berarti gua.  Di sinilah kami para cewek mengakui kalau kami salah kostum. Ternyata Leang Pettakere itu tinggi mampus. Harus menaiki tangga besi. Saya dan mbak Anaz memakai rok panjang, Mbak Lutfi dan encim terusan selutut. Mundur? No way! Sudah sejauh ini berjalan masa kami tidak melihat cap tangan peninggalan peradaban masa lalu itu.
Selanjutnya ke Leang Pettae. Syukurlah tidak ada tangga besi nan tinggi kali ini. Tempat ini dipercaya dulunya adalah laut, dinding gua yang tersusun dari karang dan tiram cukup menyiratkan bagaimana tempat itu di masa lalu. Di gua ini juga ada lukisan telapak tangan dan gambar rusa. Pengunjung situs purba itu sepi, Cuma ada rombongan kami. Jadi lebih leluasa. Sayang baterai poket cam ngedrop di sini.

Meninggalkan Leang-Leang dengan kelaparan itu ternyata tidak baik. Sepanjang perjalanan menuju Ramang-Ramang hanya diisi dengan celotehan gila untuk menutupi rasa lapar. Sepanjang perjalanan kami tidak menemui warung yang layak untuk mencharge lambung. Boleh jadi si ibu yang menawari makanan di Bantimurung tadi menertawai kami jika dia tahu hal ini.
Leang Petta Kere.Trivia alert: mana lukisan tangannya hayooo?

Jadilah di sinilah asal muasal geng #sederhana. Diawali dengan warung sederhana, kata sederhana mengilhami banyak banyolan hingga kami tiba di Ramang-Ramang, kelelahan dan kelaparan dan mabuk tertawa. Bahkan mbak Anazkia yang kalem itu ikut-ikutan bencanda. Hanya bang Bradley tampak ngantuk dan tertidur. Cuma mbak Lutfi yang sempat turun dari mobil dan mengambil gambar, itupun cuma diberi waktu oleh Daeng Ipul 5 menit.  
Masih di kompleks Lang-Leang. Di sini dulunya laut lhoo

Dari Maros ke Pangkep dan meluncur ke Makassar. Diajak ke tempat makanan daerah pelelangan ikan. Sebuah rumah makan terkenal yang bahkan Presiden pun pernah mampir. Ah pokoknya makan apa saja akan terasa nikmat jika kau sudah kelelahan dan kelaparan. Ikan bakar, sambal yang dibumbui kacang dan parutan mangga yang aneh tapi enak, sop sayur. Alhamdulilah.. perut terisi, kewarasan kembali.
Dari sana kami masih diajak kopdar terakhir dengan anak Anging Mamiri. Seharian dengan jalan, capek, kusam, belum mandi dan langsung dicempuling ke tengah peradaban dan anak nongkrong. Tak apalah, ini yang terakhir bertemu mereka. Kopdar perpisahan. Dan kami pun berpisah. Termasuk geng sederhana. Sedih.

Akhirnya saya dan encim naik taksi menuju kosan Ayu. Masih ingat adek kelas yang pada hari pertama saya tiba di Makassar itu? nah di kosan dialah kami menginap semalam.
Melepas lelah dan menikmati malam terakhir di kota Daeng.


ada penampakan :p








23 November 2012

Day 5: Dari Akkarena Hingga Penculikan Tengah Malam

3 komentar
Blogger Nusantara, BisaTonji.
Bisa semua. Semua bisa. Termasuk bisa bangun pagi setelah tidur dini hari.
Acara Mimbar Bebas memang ditutup sebelum tengah malam, tapi saya dan beberapa blogger lainnya masih heboh cekakak-cekikik melanjutkan acara malam hingga dini hari.
Minggu pagi yang cerah, hari terakhir Kopdar Blogger Nusantara di Makassar, peserta dan panitia sepertinya sudah kelelahan tapi tentu saja masih punya tenaga untuk bersenang-senang.
Dua bus mengantarkan rombongan peserta BN 2012 ini menuju destinasi pertama afterparty yaitu Pantai Akkarena.
Pantai Akkarena

Pantai Akkarena ini masih menghadap selat Makassar. Sebelum memasuki kawasan pantai ada semacam danau yang dipenuhi oleh bunga dan kiri kanan jalanan menuju pantai itu ditumbuhi bunga-bunga cantik dan terawat. Mungkin karena itu disebut Akkarena Tanjung Bunga. Pantai ini tersedia fasilitas lengkap seperti taman bermain anak, café/restoran dan juga disediakan fasilitas untuk olahraga air dan permainan seperti banana boat dan jetsky. Beberapa peserta dan panitia asyik mencoba banana boat. Beberapa lagi bermain permainan tradisional bersama komunitas-komunitas asyik Makassar yang turut serta ke pantai.
Kalau bicara soal pantai cantik sih, kami yang tinggal di daerah pantai pulau Flores ini sudah banyak makan pasir, eh, makan garam, jadi ikutan menikmati saja bersama peserta lain. Hanya saja di tempat saya belum punya fasilitas wisata pantai seperti itu. hihii..

Udara panas kota Makassar ternyata tidak membuat peserta BN 2012 mengalah begitu saja. Tengah hari rame-rame berpose di depan Fort Rotterdam, di bawah teriknya matahari dan padatnya pengunjung, maklum saja ini hari minggu. Betapa warga kota merindukan wisata.
Ketika memasuki benteng yang awalnya dibangun pada tahun 1545 oleh raja Gowa ke X dan oleh Belanda dirombak lalu dinamai dengan Fort Rotterdam itu tidak tampak aura seram seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Ramai.
Tembok bangunan di dalam benteng di cat dengan warna cream yang cerah. Di dalamnya juga ada kantor Pusat Kebudayaan Makassar dan panggung untuk suatu event, juga galeri lukisan di sepanjang koridor bangunan yang berdekatan dengan kanal. Fort Rotterdam juga merupakan tempat pembuangan/penahanan Pengeran Diponogoro sekitar tahun 1834 lho!    
Fort Rotterdam



Panitia memberikan kami waktu untuk jalan-jalan atau sekedar membeli oleh-oleh sebelum dikumpulkan untuk diantar pulang ke wisma atau ke bandara. Oh iya, sejak pagi sudah ada beberapa peserta dari luar pulau Sulawesi kembali pulang.
Kawasan Somba Opu terkenal dengan wisata kuliner dan oleh-oleh khas Makassarnya. Maka berjalanlah kami melewati beberapa blok dari Fort Rotterdam menuju kawasan pertokoan yang menjual oleh-oleh. Mulai dari jus markisa, tshirt dengan tulisan Makassar, kopi Toraja, kain  daerah, aneka camilan khas Makassar, pernak-pernik jadi incaran kami. Aaarrgh! Susahnya harus menahan diri untuk tidak kalap di toko oleh-oleh!
Galeri Lukisan di Fort Rotterdam



Pulang ke wisma, beberapa peserta sudah check out. Wisma tampak lebih sepi dari biasanya. Hiks. Untuk mengatasi rasa kesepian maka malamnya terjadi lagi penculikan.
Penculikan tengah mala mini disponsori oleh Kak Rara, Kak Irha dan Om Lelaki Bugis atau Om Anchu. Siapa saja korban penculikan kali ini? Masih ada Saya, Encim Tuteh, Bang Bradley, Isnain, Mas Hendri dan Mbak Lilis. Hihii.. kebayangkan bagaimana kami tumplek-tumplekan di dalam mobil Kak Rara. 
Kalau siang hari itu panas dan macet bikin tidak betah berlama-lama di jalan, beda rasanya keliling kota Makassar di tengah malam. Jalanan lancar jaya bisa bikin betah keliling kota, mengenal landmark yang ada. Kalau di penculikan yang pertama tidak bisa foto dengan background tulisan Pantai Losari maka penculikan kali ini terpuaskan. Meski di sana sini tampak banyak sampah dan rangka besi pasca event di anjungan itu.
The Cowoks and Losari

Dari Losari korban penculikan diajak untuk makan ‘tengah’ malam di warung Mi Anto. Mi Anto itu masih saudaranya Mi Titi, saudara-saudara. Masih sama-sama olahan mi kering dengan daging dan sayur hijau. 
Dini hari tanggal 12 November, Kota Makassar tidak sepenuhnya tertidur. Sebelum mengantar Mbak Lilis dan Mas Hendri ke bandara Sultan Hasanuddin kami menghabiskan waktu berlama-lama di kedai minum. Ini juga salah satu modus untuk mencari colokan, maklum anak-anak 2.0 itu langsung suram jika gadgetnya lowbatt dan mati. Hihiii..
Ya Allah.. Nikmatnya Saraba di sepertiga malam itu tak terkatakan. Hangatnya menenangkan! Sungguh! campuran jahe, santan dan gula arennya betul-betul pas mantap.

Menjelang jam 3 kami merapat ke Bandara Intl’Sultan Hasanuddin untuk mengantar Mbak Lilis dan Mas Hendri. Lagi-lagi foto narsis di sana. Rasa berat berpisah sama teman-teman tampak jelas diraut wajah Mbak Lilis dan Mas Hendri. So lets’ go back to reality, dear friends! Biarkan BN2012 jadi salah satu kenangan terindah kita semua. 

Duo Blogger Narsis dari NTT :p


Day 4: Kopdar Blogger Nusantara 2012, Bisa Tonji!

0 komentar

Ada Flobamora Community Di Blogger Nusantara 2012


Blogger Nusantara, Bisa Tonji!
Hari puncak kegiatan Kopdar Blogger Nusantara 2012 terpusat di LAN Antang, Makassar. Ajang kopi darat para blogger yang selama ini mungkin hanya bisa gentayangan dan berjumpa di dunia maya. Sudah dipastikan seru!
Memasuki venue peserta diberikan tagname oleh panitia disertakan dengan kupon makan siang dan coffee break. Sebelum acara dimulai kembali BN2012 alias blogger narsis 2012 bergaya di walldrop. Di depan backdrop itu juga jadi ajang temu kangen dan perkenalan peserta.
Rentetan acara yang dipandu oleh dua mc kondang Makassar ini diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan sambutan dari perwakilan Walikota Makassar disusul sambutan dari Daeng Ipul selaku ketua panitia sekaligus ketua Anging Mamiri, Komunitas Blogger Makassar. Lantas peserta disuguhi dengan tarian dan aktraksi khas budaya Makassar. Penampilan mereka sangat memukau. Peserta bahkan ada yang berdiri, memberikan applause dan ramai mengabadikannya dalam foto dan video. Sekitar 600 peserta dari berbagai daerah berkumpul dan mengikuti rangkaian acara Kopdar terbesar yang pernah diadakan di luar pulau Jawa tersebut merasa terpukau. Setelah sebelumnya sudah dipukau oleh booth-booth Komunitas kreatif  dan inspiratif yang ada di Makassar sebelum acara dimulai. 

Atraksi ini keren!


Blogger Nusantara, Bisa Tonji!
Kalimat ini membahana memenuhi aula oleh kor serentak dari peserta. Om Anjarisme dari panitia Blognus membuat tagline ini popular hingga akhir acara.
Selanjutnya acara diisi dengan talkshow. Ada Enterprenur  Blogging  yang dibawakan oleh Asri Tadda, ada juga Mbak Silly founder Blood For Life, menjelaskan tentang social movement yang ia lahirkan, besarkan dalam gerakan donor darah ini.  Lalu ada kuis dan personal branding dari XL.
Setelah break makan siang dan sholat acara kopdar masih dilanjutkan. Ehem,. sesi pertama setelah break saya bolos, karena menunggu makan siang dan ngopi-ngopi cantik bersama blogger-blogger beken.
Ada sesi yang membahas tentang video streaming, lalu fakta-fakta pengguna internet oleh ID Blognetwork, DNS Nawala dan Lintas.me yang diselingi dengan coffee break dan kuis tentunya.

Kembali kami diculik! Setelah bubar acara di LAN Antang ini masih ada acara Mimbar Bebas di Wisma Depsos tempat kami menginap. Tapi kami diculik lagi. Kalau tadinya datang bersama peserta dengan bis yang  disiapkan panitia. Kali ini kami pulangnya dengan mobil Kak Ucha. Korban penculikan kali ini Encim Tuteh, Bunda Injul, Bang Bradley dan Kak Almas. Empet-empetan di mobil mini kak Ucha dan mengisi perut dengan mi titi. Kak Ucha memang spesialisnya mi titi deh! :D

Acara Mimbar Bebas digelar di kompleks wisma malam harinya. Penampilan grup music akustik, pembacaan puisi, curhat dari masing-masing komunitas membuat malam minggu kali itu jauh dari kata galau! Jempol deh pokoknya! Eh, juga ada pemutaran film Linimassa 2. Keren kan? Apalagi disuguhi kue-kue dan minuman khas Makassar. 

Mimbar Bebas


Hari puncak Kopdar Blogger Nusantara (10/11) ini memang betul-betul seru. Bertemu banyak orang hebat, bertemu banyak orang yang sebelumnya hanya bisa sapa-menyapa di dunia maya, bisa berbagi cerita, bercanda, tertawa…
Bisa bertemu komunitas kreatif Makassar seperti Makassar Backpacker, Jalan-Jalan Seru Makassar, Makassar Berkebun, Komunitas Pecinta Anak Jalanan, Komunitas Merajut Makassar, Komunitas Cinematografi dan masih banyak lagi yang menunjukan bahwa Makassar itu tidak kasar. Ada banyak anak-anak kreatif yang mengisi waktu tidak hanya dengan kekerasan seperti yang diberitakan.
Hmm.. Jadi membayangkan kalau saja Ende punya banyak komunitas kreatif seperti ini pasti akan bagus sekali. Flobamora Community akan banyak teman antar komunitas yang bisa diajak bekerja sama dalam berbagai event layaknya Anging Mamiri dengan komunitas lainnya di Makassar. Kerja sama yang solid antar komunitas ini layak dijadikan contoh.  

Eh, masih ada cerita hari terakhir Kopdar Blogger Nusantara, lho. Seperti apa rangkaian kegiatan hari terakhir yang disiapkan panitia ya?

Pokoknya.. Kopdar Blogger Nusantara, Bisa Tonji!

BN 2012 (blogger narsis) di depan backdrop