01 November 2013

Ziarah Elektronik untuk Sebuah Kepulangan

2 komentar




Telah berpulang ke Rahmatullah, telah berpulang ke rumah Bapa,
sejenak saya berpikir tentang kalimat ini. Mengapa pulang? Mengapa bukan pergi?
Ya, karena hidup kita di bumi ini diartikan sebagai sebuah kepergian. Kepergian yang entah panjang entah pendek. 
Kita dilepas oleh kelahiran untuk menjalani perjalanan lalu pulang dalam wujud kematian. Pulang berarti kembali ke tempat kita berasal. Pulang dalam kematian berarti kembali untuk beristirahat selamanya.
Kita mengantarkan seseorang pulang dan berkata ‘selamat jalan’ seakan kita tidak sadar bahwa sebenarnya kita-lah yang di  ada di jalan, kita sedang berjalan. Kita yang sedang bepergian kini.

Banyak orang lakukan dengan mengenang ke pulangan seseorang. Doa, ziarah, peringatan ulangtahun kepulangan dan berbagai ritual adat ataupun agama dilakukan.
Ada alam lain selain alam kubur dan nyata, yaitu alam maya atau alam internet. Di alam yang penghuninya melayat di akun-akun jejaring social orang yang berpulang inilah segala doa, rasa duka dan kehilangan dituangkan. Tulisan, foto, video semasa dalam perjalanan hidup nyata menjadi tempat ziarah baru. Tulisan lama yang pulang diangkat kembali ke permukaan untuk menghidupkan kenangan. Untuk mendekatkan yang tak bisa hadir di saat terakhir.
Bahkan orang yang tidak pernah kenal, tidak pernah bertemu sebelumnya pun bisa ikut hanyut dalam kedukaan di alam itu.Ziarah elektronik untuk sebuah kepulangan.

Terlepas dari sanak family akan membiarkan penyedia akun menghapus akun atau tidak, perlu kita sisakan yang baik yang bisa diingat orang sebelum kita dipanggil pulang. Tulislah yang baik yang ketika dibuka kembali arsipmu, twitmu, statusmu yang bisa membuat orang mengenang hal manis tentangmu. Berjalan sambil mengingat pulangmu. Siapkan tempat yang nyaman untuk nanti yang datang berziarah, yang menyekar setiap isi pikirmu semasa hidup.
Sejatinya ziarah ke dalam kehidupan orang yang berpulang adalah karena rasa sayang dan kerinduan sisanya keingintahuan. Maka tinggalkan sesuatu yang berkesan.

Gajah mati meninggalkan gading, manusia modern mati meninggalkan akun social media.

*note to self*

:')

eh,  pict di atas diambil dari sini 



05 September 2013

Sedikit Salam dari Rokatenda untuk Sail Komodo

0 komentar


NTT sedang bergairah. Geliat Sail Komodo menyedot perhatian tidak hanya dari kalangan masyarakat, pejabat, pelancong tapi juga pers. Traffic perjalanan menuju Labuan Bajo sebagai finish Yacht Rally dan puncak dari serangkaian acara dalam Sail Komodo ini meningkat tajam.  Dikabarkan bahwa RI 1 dan 2 beserta beberapa Menteri dan Dubes akan hadir di acara puncak ini. Tentu saja ini hal yang membanggakan untuk NTT.

Pelepasan yacht rally sebagai kegiatan inti dari Sail Komodo 2013 ini dilakukan oleh Menko Kesra H.R. Agung Laksono selaku Ketua Panitia Pengarah Sail Komodo 2013 di Kupang, Nusa Tenggara Timur (3/8). Menko Kesra yang didampingi oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Menteri Perhubungan serta Menteri Perumahan Rakyat  menjelaskan bahwa bagi NTT sendiri, event yacht rally sangat berarti bagi pengembangan pariwisata daerah dan diharapkan dalam 3 hingga 4 bulan pelayaran ke depan, para yachter diharapkan dapat menyinggahi 21 kabupaten/kota dan menikmati eksotisme alam NTT sehingga dapat memberikan dampak langsung bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir yang tinggal di wilayah setempat.

NTT dan event berskala internasional tahun ini diselenggarakan dengan cukup meriah. Dilihat dari berbagai festival pra event Sail Komodo sendiri hingga event yang akan dilaksanakan pada hari-hari puncak nanti 11-14/09 hingga bulan berikutnya begitu banyak sususan acara. Yah meskipun gaung ke luar dirasakan masih kurang jika dibandingkan promosi Sail Morotai tahun lalu.  Seperti yang dilansir rumahalir.or.id, Gubernur NTT Frans Lebu Raya saat membuka Rapat Forum Koordinasi Daerah untuk Pelaksanaan Sail Komodo 2013 di Hotel Sasando Internasional mengatakan Provinsi melalui APBD menganggarkan Rp 83.208.537.750 untuk menyukseskan Sail Komodo yang terpetakan dalam 13 SKPD di NTT. Selain itu ada 16 kementerian yang terlibat untuk pelaksanaan Sail Komodo 2013. Masing-masing kabupaten/kota menyiapkan penyambutan Sail Komodo, tour wisata, pagelaran budaya dan hiburan umum, gala dinner, penyediaan air bersih, BBM non subsidi, money changer, dan laundry.

Beberapa hari lalu juga peserta Sail Komodo juga menepi ke kabupaten Ende, tepatnya di Maurole yang berada di sebelah utara kabupaten Ende. Maurole adalah kota kecamatan yang memiliki waktu tempuh kira-kira 3-4 jam dari kota Ende.
Maurole juga merupakan tempat pengungsi Rokatenda bergelung. Tenda-tenda yang didirikan di tepi pantai dan rumah huntara beralas pasir pantai menghiasi pesisir Maurole. Pun tidak jauh dari titik persinggahan para yachter. Di sebagian titik pengungsi sudah mendiami huntara beralas pasir pantai berdinding bambu cincang. Sebagian lagi masih tidur di dalam tenda dari tarpal bantuan. Sungguh menyedihkan.

Bahkan beberapa minggu lalu di pertengahan Agustus seorang koodinator pengungsi desa Mausambi menghubungi komunitas Blogger NTT, Flobamora Community bahwa mereka kehabisan stok beras.  Ironis memang jika dilihat dari banyaknya dana APBD yang dikucurkan untuk perhelatan wisata ini. Juga mengingat di setiap titik perhentian Rally Yacht infrastruktur diperbaiki dan diadakan acara penyambutan hingga perjamuan makan yang wah. Sementara pengungsi Rokatenda masih ada yang mengeluhkan kehabisan beras.
Ketika kami mengantarkan bantuan tahap 14 yang masuk melalui komunitas Flobamora Community (18/8) pengungsi masih juga mengeluhkan belum adanya bantuan yang datang setelah erupsi terakhir.  Erupsi ini yang menimbulkan gelombang pengungsi baru dari pulau Palue ke daratan Flores. Di beberapa lokasi pengungsian memang terdapat penambahan jumlah pengungsi. Di Mausambi sendiri terjadi penambahan 96 jiwa pengungsi baru dan lokasi pengungsian Tanjung dan Aewora sebanyak 7 kk. (data Flobamora Community per 18/8) Ini yang bisa direkam dari pengungsi Rokatenda di wilayah kecamatan Maurole, Kab. Ende. Bagaimana dengan yang di Maumere, Kab Sikka? Bisa dicaritahu sendiri.

Plan percepatan pembangunan ekonomi Indonesia yang diusung dalam Sail Komodo ini diharapkan dapat benar-benar dirasakan masyarakat NTT begitupun dengan para pengungsi.
Yah. Semoga pengungsi Rokatenda tidak kelaparan (lagi) di tengah semarak perhelatan besar Sail Komodo. Semoga Sail Komodo juga bisa dijadikan momentum untuk mengingatkan masyarakat, pejabat dan penguasa di sana tentang Rokatenda dan pengungsi di NTT yang sudah hampir setahun ini menderita.

Sedikit salam dari Rokatenda untuk Sail Komodo

9 bayi Pengungsi Terserang Gizi Buruk:
http://www.tribunnews.com/regional/2013/08/30/sembilan-bayi-pengungsi-terserang-gizi-buruk

Penduduk Palue Terancam Kelaparan:

Pantai Aiwora. Ende; 60 jiwa pengungsi tidur di tenda bantuan gereja beralaskan pasir laut

Korban Rokatenda Minum Air Keruh
http://rumahalir.or.id/korban-rokatenda-konsumsi-air-keruh/


03 September 2013

Senja Bulan September

0 komentar
aroma senja bulan September datang menerpa
datang bersama angin kering dan dedaunan kuning
debu dan rindu sama menggebu
di jalanan, di halaman

pada musim yang setia bergilir
ku titipkan salam sehangat matahari sore bergulir
ku haturkan sayang yang berbulir-bulir

pada apa yang mereka percaya ini kemarau
lalu doa dipanjatkan hingga parau
di kapela, di surau
aku selipkan rindu untuk engkau

senja September yang datang bersama ombak setinggi tinggi
menepikan bayangmu di pemecah ombak yang persegi
di dermaga kau ada lagi
horizon warna pelangi

ah, senja bulan September.
musim punya pergantian.
dan ini manusia punya penantian.

Ende, September 2013

*tulisan ini sebagai kemoceng buat bersihin debu selama hiatus :P


15 Juni 2013

Cerita Kopi Bajawa dan Kampung Tradisional Bena

2 komentar


Bajawa adalah ibukota dari Kabupaten Ngada, sekitar 4 jam perjalanan dari Ende ke arah barat.
Karena letaknya yang berada di dataran tinggi, daerah Bajawa terkenal dengan suhu udaranya yang dingin.  Makanya jenis tanaman yang santer dibicarakan hingga keluar negeri tumbuh subur di daerah ini. Apalagi kalau bukan Kopi Bajawa.
Saya pun demikian penasaran seperti apa rasa kopi Bajawa. Menikmati kopi Bajawa langsung di daerahnya semacam okeh. Maka berangkatlah saya ke Bajawa menumpang travel Ende-Bajawa dengan tarif  IDR 70.000.
Bajawa ternyata tidak seluas kota Ende, di dalam kota sendiri tidak terdapat bemo/angkot hanya ada ojek. Mungkin karena itu masyarakat Bajawa rerata punya mobil pribadi. Bajawa juga hanya punya 1 traffic light dan 1 pasar dalam kota. Selebihnya semua dapat ditempuh dengan berjalan kaki.  Bagus untuk yang berniat hemat bahan bakar dan membakar  lemak berlebih! :D

Menikmati kopi Bajawa di tengah suhu udara yang dingin memang nikmat :D


Di Bajawa saya numpang nginap di rumah teman kuliah, namanya Damayanti.  Dia yang menemani saya ke pasar untuk membeli kopi (biji kopi) sekaleng margarine 1kg dipatok harga IDR 25.000. *Yang kemudian sampai di rumah ditimbang ulang ternyata cuma 800gram. :P
Kemudian saya bertanya, “Di sini tempat nongkrong anana muda di mana? Atau kafe buat ngopi begitu?”.
Dari banyak orang yang saya tanya menjawab tidak ada tempat nongkrong di Bajawa. Jam 8 malam jalanan sudah sepi. Semua memilih untuk menghangatkan diri di dalam rumah.
Seorang lantas menyarankan saya mencari kafe ‘Mai Dia’. Maka jadilah Damayanti sebagai tour guide yang tidak ngeh sama yang namanya ‘nongkrong di kafe’ membelah kota Bajawa.  Meskipun Bajawa demikian kecil tapi tempat yang ditunjuk susah dicari lantaran tetangga kafe yang empunya warung ngopi menjawab tidak tahu dan kafe itu belum terpasang plang papan nama. Lucky us, ada yang lewat dan menunjuk salah satu bangunan bercat krem dan berpenampakan seperti rumah huni. Kafe ‘Mai Dia’! hahaha.. tepat di seberang dari warung kopi tempat kami berhenti dan bertanya setelah beberapa kali keliling blok itu.
“Hiii.. itu bukan kafe Mai Dia laaaa.. itu kafe tanpa nama laaa..” nyinyir si empunya warung kopi dengan logat Bajawa kental.

Kopi Bajawa lumayan. Meski agak pahit karena gulanya cm 3 sachet :p atau  mungkin lidah saya yang  terbiasa dengan kopi Ende yang harum karena diracik sendiri sama Mama kali ya, lantas merasa kopi Bajawa kurang nendang. 
Di kafe itu juga dijual kopi arabika Bajawa dalam paket 250gram IDR.30.000. Dan percangkir kopi dipatok harga IDR5.000. Eh, Mai Dia itu berasal dari bahasa Bajawa, yang berarti berarti Mari Sini. Café ini punyanya Pemda Bajawa. Nice! :)

Kampung Bena dari sisi selatan (puncak gua Maria)


Berada di Kabupaten Ngada tanpa mengunjungi Bena adalah sia-sia. Bena adalah kampong adat yang berada di bawah kaki gunung Inerie, kecamatan Aimere, sekitar 19 km selatan kota Bajawa.
Sebuah kampong peninggalan megalitikum yang dipercaya ada sejak kurang lebih 1200 tahun yang lalu.  Kampung ini memiliki 45 rumah adat, selain itu juga memiliki Ngadhu Bhaga dan Nabe. Bangunan Bhaga sendiri mirip pondok kecil dan tidak dihuni. Ngadu merupakan bangunan bertiang tunggal dan beratap serat ijuk, mirip gazebo.
Di sekitar rumah terdapat bebatuan ceper hingga yang tinggi menjulang, dipercaya menjadi tempat pemujaan di jaman dahulu kala sisa peradaban di zaman megalitikum. Juga terdapat tanduk-tanduk kerbau yang mungkin hasil kurban dirangkai bersusun di dinding rumah bagian depan.
Meski dahulunya warga Bena adalah penganut kepercayaan pada roh atau dewa-dewa dan masih menjalankan ritual peninggalan leluhur seperti menyembelih hewan kurban untuk membersihkan bebatuan megalitikum, sekarang mereka adalah pemeluk agama Katholik. Di ujung selatan kampong yang letaknya lebih tinggi terdapat semacam gua tempat warga sembayang, lengkap dengan patung Bunda Maria. Dari sini juga view secara keseluruhan kampong Bena dapat kita lihat.
Bentuk kampong Bena yang meyerupai perahu. Ini menurut kepercayaan megalitik perahu dianggap sebagai wahana bagi arwah yang menuju ke tempat tinggalnya.
Eh, jangan salah, meskipun kampong tradisional, rumah-rumah di Bena ini sudah dilengkapi listrik. Anak-anak di sana juga bersekolah dan mereka sudah terbiasa sama yang namanya turis. Huhuu..  mereka tidak takut untuk difoto terus minta permen. :P *rogoh-rogoh tas selempang tidak ada permen, cuma kasih senyum aja deh jadinya. :D  

Bocah - Bocah Bena Berlatar Bhaga

Saya dan Ngadhu


Sore (11/6) ketika saya beserta seorang teman yang saya panggil Kak Echy dan suami, beserta tetangga asrama polisi-nya (suami kak Echy ini Polisi) berkunjung ke Bena, warga di sana sedang giat berlatih. Tidak ditemui satupun aktifitas ibu-ibu menenun di pendopo rumah. Semua turun ke tengah kampong, melatih tari-tarian dan kor. Ada apa? 

Warga sedang berlatih tarian Ja'i

Tidak ada aktifitas menenun sore itu hanya ada kain tenun yang dijual sebagai cinderamata

Ketika ditanyai seorang Bapak menjawab bahwa tanggal 15/6 nanti akan ada pesta emas yang dirayakan secara besar-besaran dan mengundang Gubernur NTT. Ini bukan berarti pesta emas untuk ultah yang ke 50 tahun gitu. Kampong ini saja peninggalan zaman megalitikum.
Karena takut mengganggu keseriusan warga, sayapun tidak banyak bertanya lagi. Hanya sedikit berbincang di pos masuk yang dijaga seorang ibu dengan dilengkapi buku tamu dan kotak sumbangan.
Senja sudah turun di balik gunung Inerie saat warga masih serius berlatih sebagian lagi mendirikan tenda-tenda di tengah kampong dan kami pun pamit pulang.

Senja Bena dari Balik Punggung Inerie





*trims kaka Dima dan kaka Echy beserta keluarga.





02 Juni 2013

Ende Dalam Antusiasme

0 komentar
Bung Karno dalam perenungan


Peringatan Hari Kesaktian Pancasila secara nasional yang jatuh pada tanggal 1 Juni terpusat di Ende.
Rangkaian acara dihelat sebelum puncak acara yakni peresmian situs dan monumen Bung Karno oleh Wapress Budiono. Ada pementasan tonil Rahasia Kelimutu oleh mahasiswa Uniflor yang berasal dari naskah tulisan Bung Karno selama masa pengasingan berhasil memukau penonton malam itu di auditorium Uniflor. 
Ada pula perhelatan Gawi Kolosal 5000 orang berlokasi di lapangan Pancasila. Sayang sekali, lapangan becek pasca hujan siang itu. Tapi penari yang terdiri dari pelajar dan PNS sekota Ende itu tetap turun ke tengah lapangan, bergandengan tangan membentuk lingkaran-lingkaran.
Gawi adalah salah satu tarian dari Ende (suku Lio) yang bermakna tentang persahabatan, persaudaraan. 
Malam hari setelah acara tarian gawi dan beberapa tarian kontemporer ada acara Malam Renungan Pancasila.

Gawi 5000 Orang Penari


Kota Ende yang kecil ini seakan penuh sesak, jalanan sekitar Lapangan Pancasila macet se macetnya. seakan semua warga keluar dari rumah masing-masing untuk menyaksikan acara-acara tersebut. 
Bahkan KRI dr.Soeharso yang bersandar di dermaga Ende, tak jauh dari Lapangan Pancasila menjadi objek hiburan tersendiri. ramai-ramai warga ke dermaga hanya untuk sekedar melihat kapal itu dari dekat dan berfoto. Pada beberapa kesempatan warga dibolehkan naik ke kapal untuk sekedar melihat-lihat.
Lucu! Bocah-bocah begitu antusias berfoto di tangga kapal sore itu.
saya sendiri ikut ramai diseret teman yang penasaran ingin masuk ke kapal, tapi tidak dibolehkan. Senja yang ramai di tanggal 31. Sangat ramai.


Tanggal 1 upacara Peringatan Kesaktian Pancasila yang dihadiri oleh Wapres Budiono, Taufik Kemas, Beberapa Menteri, Kapolri, Panglima TNI, Gubernur NTT, Bupati se-NTT dan Bupati yang menjabat di daerah pengasingan Bung Karno dahulu. Upacara ini tertutup untuk umum, warga hanya melihat dari kejauhan. Jalanan dialihkan dimana-mana, alhasil keluhan teman-teman yang di status BBM dan sosial media mereka bermunculan. Jalanan yang macet, tempat nongkrong yang disterilkan blablaaa.. banyak juga yang memilih di rumah, menonton di layar TVRI siaran langsung prosesi Peringatan itu.
Tetapi setelah itu ramailah monumen Bung Karno di taman Renungan Pancasila di mana pohon sukun bercabang lima itu tumbuh. Warga dengan segala antusiasmenya karena selama hampir dua bulan taman itu ditutup untuk pengerjaan monumen berhamburan masuk ke lokasi taman, berfoto di sekitar pohon sukun dan patung Bung Karno yang sementara duduk merenung.
Meski taman renungan dan monumen itu belum sepenuhnya rampung, hari itu tetap diresmikan oleh Pak Budiono. Semoga tamannya akan kembali dirampungkan dan tentu saja pemeliharaannyalah yang utama.
Siap, Ende?


*foto pertama oleh Bli Dhanu - Komunitas Fotografer Ende

31 Mei 2013

Dari Tanah Interniran Bernama Ende

0 komentar


 Di Dalam Bab Surat-Surat Islam dari Ende

Tahun 1933 Bung Karno beserta keluarga naik kapal Van Riebeck dari Surabaya menuju sebuah tanah interniran di tengah pulau Flores, daerah yang bernama Ende. Sebuah daerah terpencil yang di batasi oleh pegunungan dan lautan itulah  yang menjadi pilihan Pemerintah Belanda untuk mengasingkan beliau. Berharap pemikiran beliau juga ikut terkungkung bersama raganya. Namun 1934-1938 pemikiran-pemikiran beliau tetap melesat.  
Dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi oleh Ir.Sukarno djilid pertamayang merupakan peninggalan almarhum Opa sayaterdapat bab Surat-Surat Islam Dari Endeh.  *dengan edjaan jadul yang bikin njlimet*
Pada bab ini ada sekitar  12 surat yang ditulis oleh Bung Karno kepada TA Hassan, guru Persatuan Islam di Bandung.
Kenyataan bahwa berada di Ende tidak membuat hubungannya dengan orang luar (di pulau Jawa) terputus begitu saja. Ada banyak surat yang mengisahkan hidupnya dan hidup masyarakat Ende. Dalam surat-surat beliau lebih banyak menuliskan tentang pemikirannya akan Islam, Islam yang ‘hidup’. Keinginannya untuk memiliki bacaan yang berbau Islam terlihat dari surat-suratnya yang selalu membahas buku yang pernah, sedang dan ingin dia baca.

‘…begitulah keadaan saja di Endeh; mau menambah pengetahuan, tetapi kurang petundjuk. Pulang balik kepada buku-buku jang ada sahaja.’
Sebagaimana beliau yang mencintai buku, lalu diasingkan di tanah sunyidimana kesibukannya hanya bercocoktanam, ngobrol dengan keluarga, dan membaca tentu saja beliau sangat kehausan akan bacaan baru dan bermutu. Ia menyurati koleganya untuk mengirimkan buku-buku, terlebih buku Islam. Tidak hanya dari penulis dalam negeri tapi dari luar negeri juga. Beliau begitu menginginkan kemajuan, tidak hanya untuk pemikirannya sendiri tapi pemikiran masyarakat Ende, khususnya masyarakat Muslim yang menurut beliau kekurangan bacaan bermutu. Ada pula surat yang isinya meminta potongan harga buku-buku Islam untuk teman-temannya penduduk Ende.

‘…mereka ingin batja buku-buku Persatuan Islam, tetapi karena malaise mereka minta pada saja medatangkan buku-buku itu dengan separph harga…’
Selama masa pengasingan beliau lebih banyak membaca buku-buku Islam. Pemikiran-pemikirannya tentang Islam ditularkan kepada teman-teman Ende meski dalam surat beliau terdapat kalimaa-kalimat kritikan keras yang mengungkapkan kurangnya pengetahuan dan kekolotan orang Ende.

Tidak semua tentang Islam, beliau juga kerap berdiskusi dengan Pastor-Pastor yang pada masa itu kebanyakan berasal dari misionaris Belanda. Bahkan dalam suratnya tertanggal 15 September 1935 beliau menaruh respect atas kerja misionaris yang menyebarkan ajaran agama Kristen di daratan Flores.
‘…kita banjak mencela missi,−tapi apakah jang kita kerdjakan bagi menjebarkan agama Islam dan meperkokoh Islam? Bahwa missi mengembangkan roomskatholicisme, itu adalah mereka punja hak, jang kita tidak boleh tjela dan gerutui.’

Korespondensi yang terkendala jadwal kapal Flores-Jawa tidak melunturkan semangat beliau untuk tetap menulis meski aktifitas surat menyuratnya terhenti sejenak saat Ibu mertuanya yang ikut serta ke Ende sakit dan meninggal dunia.
Surat-surat beliau yang mana menjadi saksi sejarah tentang  pemikiran beliau dan kehidupan selama di Ende pun dimintai cetak oleh sahabat penanya itu.
‘…Tuan tanja, apakah tuan boleh mentjetak saja punja surat-surat kepada tuan itu? Sudah tentu boleh, tuan! Saja tidak berkeberatan apa-apa atas pentjetakan itu. dan malahan barangkali ada baiknja orang mengetahui surat-surat itu. Sebab di dalam surat-surat itu adalah saja teteskan sebagian dari saja punja batin, saja punya njawa, saja punja djiwa. Di dalam surat-surat itu adalah tergurat sebagian garis-perobahannja saja punja djiwa….’

Di Gedung Imaculata.

Beliau berkarya. Beliau seniman. Di tangannya lahir belasan naskah tonil. Bersama beberapa teman pribumi tonil dipentaskan di gedung Imaculata, gedung milik Pastoral. Karena kedekatan beliau dengan beberapa Pastor dan misionaris asal Belanda maka dipinjamkanlah gedung serbaguna milik gereja.
Selama diasingkan hampir lima tahun di Ende, Bung Karno menyalurkan bakat seninya dengan menyusun naskah drama sambil mengobarkan semangat perjuangan. Grup tonil yang terdiri dari sejumlah pengikutnya diberinama Klub Kelimutu. Salah satu naskah tonilnya yang terkenal di kalangan masyarakat Ende pada masa itu adalah Rahasia Kelimutu.
Selain membuat tonil, beliau juga menghabiskan waktu dengan melukis.

Di Bawah Pohon Sukun.

Semua orang tahu Pancasila. Tetapi tidak semua  tahu di mana Bung Karno dulu merenungkan  kalimat-kalimat sakti itu.
Di Ende, di bawah pohon sukun bercabang lima tempat Bung karno duduk merenung dan membacasambari menatap laut Sawu itulah Pancasila pertama kali  tercetus di benak beliau.  Dari keberagaman dan kerukunan antara Islam dan Kristen di Ende, kehidupan masyarakat Ende yang kompleks beliau memetik banyak hal.  Dari keterasingan, kesunyiaan Ende itu juga beliau punya banyak waktu untuk merenung.

"Di Pulau Bunga yang sepi tak berkawan, aku telah menghabiskan berjam-jam lamanya merenung di bawah pohon kayu. Ketika itulah datang ilham yang diturunkan Tuhan mengenai lima dasar falsafah hidup yang sekarang dikenal dengan Pancasila. Aku tidak mengatakan aku menciptakan Pancasila. Apa yang kukerjakan hanyalah menggali tradisi kami jauh sampai ke dasarnya, dan keluarlah aku dengan lima butir mutiara yang indah." (Sukarno: An Autobiography, Cindy Adams, 1965)

Di Bawah Bendera Revolusi