27 Februari 2013

Suatu Ketika Di Jogjakarta

4 komentar



Menginjakkan kaki di kota gudeg setelah menempuh perjalanan panjang Ende-Kupang-Surabaya dan dari Surabaya berjam-jam dalam bis menuju Jogjakarta itu melelahkan juga. Rontok!

Ini kali pertama saya ke Jogja *berharap ada yang kedua dan seterusnya* :P

Hihiii..


Menginap di hotel sekitaran Malioboro yang merupakan petak teramai kota Jogja membuat lapar mata. pasalnya segala yang lucu-lucu, enak-enak ada di sana. Menjejakkan kaki di setiap jengkal Malioboro hanya untuk melihat-lihat apa yang membuat jalanan ini begitu ramai namun tetap ramah untuk pejalan kaki. Meski harus beberapa kali menghindar dari andong (saya takut deket-deket kuda soalnya) dan bersenggolan dengan pejalan kaki lainnya saat mata lebih memilih memperhatikan barang dagangan yang memenuhi teras toko di sepanjang Malioboro. Seakan tak pernah sepi.
Malioboro dan Kesibukannya
Demikian pula hingga malam hari, bermunculan lesehan yang menjajakan aneka makanan murah meriah menggantikan posisi pedagang pagi yang sudah menutup dagangannya pada pukul 7 malam. Hadirnya grup music perkusi di pinggir jalan membuat suasana semakin ramai dan heboh. Orang-orang asyik saja berjoget di pinggir jalan, dikerumuni keramaian saat music perkusi memainkan salah satu lagu dangdut yang terkenal. Abege tua.

:D



Ah, Jogja. Kota ini begitu menawan.



Sore-sore duduk menikmati keramaian di tengah kota, di Titik Nol. Berdiri Istana Negara Yogyakarta yang dibangun pada tahun 1824, di seberang jalan ada benteng Vredeburg yang saat ini berfungsi sebagai museum kota dan juga ada Monumen yang tujuan didirikannya untuk mengenang Serangan Umum 1 Maret 1949. Dari kota kecil Ende yang bersejarah dengan rumah pengasingan Bung karno dan tempat Bung Karno merenungan Pancasila, kemudian melihat sejarah yang lebih banyak di kota lain itu sensasinya berbeda.

Duduk menikmati kopi yang dijajakakan PKL dan dihibur oleh pengamen sambil menonton aksi pantomime beberapa mahasiswa yang dengan berbagai kostum. Kota ini sungguh menarik. Meski duduk di situ harus menyiapkan duit khusus pengamen yang silih berganti datang.

Di seberang jalan sana juga ada gedung sisa kejayaan arsitektur zaman kolonial. Ya! gedung kantor BNI di sisi selatan jalan yang dulu merupakan gedung asuransi pada zaman kolonia Belanda, kantor radio pada zaman pendudukan Jepang dan studio radio pada masa awal kemerdekaan. Di timur gedung BNI ada gedung kantor Pos Yogyakarta. Juga ada gedung kantor perwakilan BI yang dulunya adalah kantor de Indische Bank.

Merenung di Titik Nol


Ketika malam turun di Titik Nol, suasana masih tetap ramai. Lampu jalanan dan taman kota menambah romantisme kota ini. Pun saat berjalan kaki menuju Tugu Jogja Kembali. Jalanan masih ramah dengan pejalan kaki. Sesekali tukang becak menawarkan jasanya dengan ramah.
Rasanya kurang afdol kalau ke Jogja tidak mengabadikan foto diri dengan latar belakang Tugu Jogja atau oleh pemerintah Belanda disebut De Witte Paal (tugu putih) yang menjulang setinggi 15 meter itu.

Setiap tempat yang menjadi landmark kota ini selalu dipadati oleh manusia-manusia yang haus akan pengabadian moment. Kamera di sana sini, bahkan ada yang langsung membuat sketsa di buku sketsa mereka. Mau foto pun pakai ngantri. Ckckck..

Jogja memang mempesona!

Malam di Beringjn Kembar


Romantis mistis. Mungkin begitu kota ini diciptakan. Mulai dari legenda Ratu Pantai Selatan, Keraton hingga Merapi yang penuh misteri.

Kisah Beringin Kembar di alun-alun Kidul (alun-alun selatan) cukup membuat penasaran, maka malam jumat itu saya mengikuti tuntutan adrenaline untuk mencoba. Lho kenapa malam jumat? Emang harus malam jumat? Hehee.. Kebetulan aja ke sananya malam jumat. Bisa coba siang dan malam kok, selama tidak capek menutup mata dan berjalan kek orang buta :P

Malam itu saya bergabung dengan sekian banyak orang yang mencoba menaklukan kisah Beringin Kembar. Percobaan pertama miring hingga ke pagar beringin. Percobaan kedua nyaris masuk genangan air hujan di track menuju beringin dan tidak sengaja membuka mata. Kali ketiga berhasil! Yuhuuu!! Tembuus!

Intinya hanya perlu berkonsentrasi dengan langkah agar tetap lurus, tapi aneh juga sih melihat ada yang miringnya jauh banget sampai ke rerumputan sana.
Jogja Air Show 2013

 
Jauh-jauh dari kota yang sepelemparan batu udah ketemu pantai, eh ke kota orang masih carinya pantai juga. Hahaaa..

Berbekal google map akhirnya sampai juga ke Parangtritis. Jauh juga ya dari pusat kota. Orang Jogja buat main ke pantai harus menempuh perjalanan jauh. Hmm.

Parangtritis yang adalah pantai selatan Jawa ini menghadap langsung ke arah Samudra Hindia. Pantas saja ombak di sana tidak santai. Beberapa tempat dipasang plang larangan berenang dan mas-mas Baywatch-nya siap siaga di tempat.

Jadi kalau ke pantai nggak main air, kita buat apa donk? tenang, kebetulan sekali saat saya ke sana pantai lagi ramai sama Festival Paralayang dan Gantole. Pas manteb banget kan yah.. :D

Sekalipun saban hari pantai ini ramai, sore hari di weekend tanggal 8-10/02 keramaian membludak karena ada perhelatan paralayang yang bertajuk Jogja Air Show 2013. Awalnya ke Parangtritis untuk Menikmati atmosfir romantis mistis sambari menjerat senja dan mengabadikannya, tapi langit Parangtritis sore itu yang dipenuhi oleh atraksi aerobatic atlet-atlet paralayang, gantole dan paramotor cukup menarik perhatian. Sesekali mereka meliuk rendah seakan ingin menggoda pemotor di bawah. Sesekali menukik tajam di atas air laut. Keren!

Suasana ramai hingga senja turun sempurna.

Parangtritis Silhouette


Senja Parangtritis cantik!

Senja memang cantik di manapun dan selalu semakin cantik saat kita bersama orang-orang yang kita harapkan untuk ada. :D


Ke Jogja adalah tentang kulinernya juga. Mencoba gudeg itu sudah pasti hukumnya wajib. Tapi mengingat pencernaan saya yang kadang sering kumat manjanya, jadi kali ini cukup berhati-hati memilih menu makanan. *trauma wisata kuliner di Makassar*

Kalau soal mencoba coklat aseli Jawa yang begitu menggiurkan selalu ada kesempatan untuk itu. coklat Monggo, Soklate, Chocodot.. hmmm.. Daku rela genduuut!!

Begitu juga soal makanan oleh-oleh khas Jogja, bakpia patek! Selalu ada waktu untuk membeli dan membawa pulang ke kampong halaman.



Jogja memang enak!





Pokoknya banyak hal yang teringat ketika mendengar atau membaca tentang Jogja. Kota ini begitu melekat di hati. Suatu ketika di Jogjakarta, segala tentang romantisme, mistis, kuliner, budaya, seni, sejarah.. akan berubah menjadi kerinduan untuk dipertemukan lagi.

Semoga suatu saat bisa kembali ke kota berhati nyaman ini.






Fotonya diambil sesuka hati dari tukang jepret :P

21 Februari 2013

Talk More Do More itu Flobamora Community

2 komentar

Happy 4th Anniversary Flobamora Community!

Kalau ditanya acara perayaan hari jadi Flobamora Community sukses atau tidak, maka akan saya jawab: sukses! Melihat bagaimana pembentukan panitia, pendanaan dan kopdar-kopdar persiapan acara yang yah begitulah.. hehehee.. kami serba kekurangan, teman! Tapi itu tidak membuat kami surut. Acara ini harus tetap berjalan.

Bertempat di areal Museum Tenun Ikat, Jalan Soekarno, Ende, sabtu malam, tanggal 2 Februari digelar perhelatan temu blogger NTT dalam rangka ultah komunitas ini. Setelah sehari sebelumnya sukses dengan acara nobar Linimassa 2 dan workshop blog di SMAK Syuradikara yang tidak saya hadiri karena harus masuk kerja *sedih*
Acara malam itu sempat diuji dengan hujan yang turun rintik bahkan cukup deras, mengingat konsep acara kami adalah outdoor dan Cuma beratapkan langit acara sempat dipending dan hadirin sekalian mengungsi di lopo-lopo terdekat yang masih dalam komplek Museum.
Acara dilanjutkan meski langit masih sedikit menangis oleh dua MC super gokil, kaka Oka dan kaka Kharisma yang malam itu cukup heboh dengan penampilannya menggunakan Luka Lesu (pakaian adat Ende untuk pria, sarung hitam, kaos singlet, selempang dan ikat kepala) .
Acara terus bergelinding, mulaidari penampilan adek kecil, Salsa Ndale yang memainkan pianika-nya dengan harmonis, tarian kreasi baru yang menggabungkan tarian adat, permainan rakyat dan modern dance: shuffle. Pelatih anak-anak ini siapa lagi kalau bukan encim Tuteh. Yang nari ini juga sebagaiannya adalah member FC yang masih duduk di bangku sekolah. Games-games seru juga melengkapi rangkaian acara. Hadir pula Om Apo Tupen perwakilan dari TN Kelimutu yang membagikan merchandise. Semakin malam dan hujan berhenti total, tamu makin banyak berddatangan, bahkan warga sekitar ikut masuk ke dalam venue acara bergabung menonton riuhnya ultah FC. Keamanan tetap terjaga dengan hadirnya Polisi malam itu.
Ada juga mimbar bebas yang menyilakan kaka Dicky Senda dan Sandra Frans juga beberapa member berbicara mengenai kesannya selama bergabung. Oh ya, kami kedatangan member FC dari pulau seberang lho, ada dari kota Kupang, So’e dan Maumere. Juga warga Dusun Flobamora, Komunitas Sastra NTT *kalo kamu baca blogpost saya sebelum ini pasti kamu tau :p* yaitu Romo Patris dan Djho Ismail.
Keren kan?! jauh-jauh mereka menyeberangi lautan untuk hadir di acara ini.
 
Acara ini juga dimeriahkan oleh penampilan Laskar Ambroek, salah satu Komunitas Pecinta Alam yang semua membernya adalah anak metal. It’s a WOW! Mereka membawakan sebuah fragmen dengan tema tentang alam. Rasanya tidak cukup menjealskan detil kerennya penampilan mereka di sini, teman. Ini serius.
Tidak kalah pula penampilan kaka Dicky Senda yang membawakan puisi Mario F. Lawi, salah satu warga Dusun Flobamora. Di sini saya berdarah-darah! Sebut saya lebay kalau kalian tidak ikutan terhanyut dalam puisi yang berjudul Sebuah Perumpaan Tentang Dirimu, Cinta.

Makanan dibagikan pada para tamu undangan sambari acara tetap berlanjut dengan penampilan  RFC, Rapper Family Clan. RFC selalu bikin suasana pesta benar-benar pesta! Semua ikut hanyut dalam rima dan beat. Apalagi mereka jago free style, maka terciptalah free style ultah FC malam itu.
Rasanya ingin memperpanjang waktu namun harus diakhiri karena batas izin pemakaian tempat. Setelah sesi foto bersama berlalu acara ditutup dengan Gawi (tarian persahabatan Ende) bersama.

Saya terharu saat diputar video kegiatan dan member FC, meskipun belum lama bergabung. Inilah kami, dengan keterbatasan kami, tidak hanya ngumpul hore saja tapi berkegiatan social di dunia nyata dan bersama mengenalkan NTT di luar melalui dunia maya. Swadaya, sawadana, teman! Semboyan kami adalah: Talk More, Do More.

Terima kasih Flobamora Community sudah menjadi tempat bernaung, sudah  4 tahun, terus tumbuh dan berkembang.  Terima kasih buat tamu undangan, buat Dinas Pariwisata Kab Ende, Balai TN Kelimutu, Internet Sehat, Kepolisian Resort Ende, PLN Cabang Ende, SMAK Syuradikara, Komunitas Sastra Dusun Flobamora, KPA Laskar Ambroek, Rapper Family Clan…
buat penemu komputer dan Internet, tanpa kalian kami tidak bisa seperti ini..
buat pawang hujan yang ternyata ada pantangan saat acara berjalan dan kami langgar, hihii..
buat panitia, member FC… alefyu semuanya!
*cups sayang selaluh!