31 Mei 2013

Dari Tanah Interniran Bernama Ende

0 komentar


 Di Dalam Bab Surat-Surat Islam dari Ende

Tahun 1933 Bung Karno beserta keluarga naik kapal Van Riebeck dari Surabaya menuju sebuah tanah interniran di tengah pulau Flores, daerah yang bernama Ende. Sebuah daerah terpencil yang di batasi oleh pegunungan dan lautan itulah  yang menjadi pilihan Pemerintah Belanda untuk mengasingkan beliau. Berharap pemikiran beliau juga ikut terkungkung bersama raganya. Namun 1934-1938 pemikiran-pemikiran beliau tetap melesat.  
Dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi oleh Ir.Sukarno djilid pertamayang merupakan peninggalan almarhum Opa sayaterdapat bab Surat-Surat Islam Dari Endeh.  *dengan edjaan jadul yang bikin njlimet*
Pada bab ini ada sekitar  12 surat yang ditulis oleh Bung Karno kepada TA Hassan, guru Persatuan Islam di Bandung.
Kenyataan bahwa berada di Ende tidak membuat hubungannya dengan orang luar (di pulau Jawa) terputus begitu saja. Ada banyak surat yang mengisahkan hidupnya dan hidup masyarakat Ende. Dalam surat-surat beliau lebih banyak menuliskan tentang pemikirannya akan Islam, Islam yang ‘hidup’. Keinginannya untuk memiliki bacaan yang berbau Islam terlihat dari surat-suratnya yang selalu membahas buku yang pernah, sedang dan ingin dia baca.

‘…begitulah keadaan saja di Endeh; mau menambah pengetahuan, tetapi kurang petundjuk. Pulang balik kepada buku-buku jang ada sahaja.’
Sebagaimana beliau yang mencintai buku, lalu diasingkan di tanah sunyidimana kesibukannya hanya bercocoktanam, ngobrol dengan keluarga, dan membaca tentu saja beliau sangat kehausan akan bacaan baru dan bermutu. Ia menyurati koleganya untuk mengirimkan buku-buku, terlebih buku Islam. Tidak hanya dari penulis dalam negeri tapi dari luar negeri juga. Beliau begitu menginginkan kemajuan, tidak hanya untuk pemikirannya sendiri tapi pemikiran masyarakat Ende, khususnya masyarakat Muslim yang menurut beliau kekurangan bacaan bermutu. Ada pula surat yang isinya meminta potongan harga buku-buku Islam untuk teman-temannya penduduk Ende.

‘…mereka ingin batja buku-buku Persatuan Islam, tetapi karena malaise mereka minta pada saja medatangkan buku-buku itu dengan separph harga…’
Selama masa pengasingan beliau lebih banyak membaca buku-buku Islam. Pemikiran-pemikirannya tentang Islam ditularkan kepada teman-teman Ende meski dalam surat beliau terdapat kalimaa-kalimat kritikan keras yang mengungkapkan kurangnya pengetahuan dan kekolotan orang Ende.

Tidak semua tentang Islam, beliau juga kerap berdiskusi dengan Pastor-Pastor yang pada masa itu kebanyakan berasal dari misionaris Belanda. Bahkan dalam suratnya tertanggal 15 September 1935 beliau menaruh respect atas kerja misionaris yang menyebarkan ajaran agama Kristen di daratan Flores.
‘…kita banjak mencela missi,−tapi apakah jang kita kerdjakan bagi menjebarkan agama Islam dan meperkokoh Islam? Bahwa missi mengembangkan roomskatholicisme, itu adalah mereka punja hak, jang kita tidak boleh tjela dan gerutui.’

Korespondensi yang terkendala jadwal kapal Flores-Jawa tidak melunturkan semangat beliau untuk tetap menulis meski aktifitas surat menyuratnya terhenti sejenak saat Ibu mertuanya yang ikut serta ke Ende sakit dan meninggal dunia.
Surat-surat beliau yang mana menjadi saksi sejarah tentang  pemikiran beliau dan kehidupan selama di Ende pun dimintai cetak oleh sahabat penanya itu.
‘…Tuan tanja, apakah tuan boleh mentjetak saja punja surat-surat kepada tuan itu? Sudah tentu boleh, tuan! Saja tidak berkeberatan apa-apa atas pentjetakan itu. dan malahan barangkali ada baiknja orang mengetahui surat-surat itu. Sebab di dalam surat-surat itu adalah saja teteskan sebagian dari saja punja batin, saja punya njawa, saja punja djiwa. Di dalam surat-surat itu adalah tergurat sebagian garis-perobahannja saja punja djiwa….’

Di Gedung Imaculata.

Beliau berkarya. Beliau seniman. Di tangannya lahir belasan naskah tonil. Bersama beberapa teman pribumi tonil dipentaskan di gedung Imaculata, gedung milik Pastoral. Karena kedekatan beliau dengan beberapa Pastor dan misionaris asal Belanda maka dipinjamkanlah gedung serbaguna milik gereja.
Selama diasingkan hampir lima tahun di Ende, Bung Karno menyalurkan bakat seninya dengan menyusun naskah drama sambil mengobarkan semangat perjuangan. Grup tonil yang terdiri dari sejumlah pengikutnya diberinama Klub Kelimutu. Salah satu naskah tonilnya yang terkenal di kalangan masyarakat Ende pada masa itu adalah Rahasia Kelimutu.
Selain membuat tonil, beliau juga menghabiskan waktu dengan melukis.

Di Bawah Pohon Sukun.

Semua orang tahu Pancasila. Tetapi tidak semua  tahu di mana Bung Karno dulu merenungkan  kalimat-kalimat sakti itu.
Di Ende, di bawah pohon sukun bercabang lima tempat Bung karno duduk merenung dan membacasambari menatap laut Sawu itulah Pancasila pertama kali  tercetus di benak beliau.  Dari keberagaman dan kerukunan antara Islam dan Kristen di Ende, kehidupan masyarakat Ende yang kompleks beliau memetik banyak hal.  Dari keterasingan, kesunyiaan Ende itu juga beliau punya banyak waktu untuk merenung.

"Di Pulau Bunga yang sepi tak berkawan, aku telah menghabiskan berjam-jam lamanya merenung di bawah pohon kayu. Ketika itulah datang ilham yang diturunkan Tuhan mengenai lima dasar falsafah hidup yang sekarang dikenal dengan Pancasila. Aku tidak mengatakan aku menciptakan Pancasila. Apa yang kukerjakan hanyalah menggali tradisi kami jauh sampai ke dasarnya, dan keluarlah aku dengan lima butir mutiara yang indah." (Sukarno: An Autobiography, Cindy Adams, 1965)

Di Bawah Bendera Revolusi



29 Mei 2013

Apa Ini Cukup?

0 komentar

apa ini cukup?
sementara langit turut andil dalam perubahan perasaan
dan takdir hadir menentukan kesempatan
kita dan apa yang tidak bisa lagi terucap dengan kata
ku harap ini sudah menggenapkan segala

....


28 Mei 2013

Ende Menjelang Peringatan Kesaktian Pancasila

2 komentar
Bung Karno merenung di bawah pohon sukun, saya merenung di bawah Tugu Gempa


Suatu malam minggu yang tidak biasa, saya duduk di bawah Tugu Peringatan Gempa '92 di Jalan Soekarno. Hanya ingin duduk merasakan geliat keramaian kota kecil ini. Ditemani sepupu dan sekantung pisang goreng yang dibelikan pacanya.
Jalan Soekarno memang ramai, baik siang ataupun malam. Jika siang ramai dengan aneka es; es campur, es kelapa muda, es bubur, rujak dll, malam akan ramai ramai segala macam gorengan, bakso, tahu tek, jagung bakar, kacang goreng, kembang gula hingga pasangan kekasih ada di sana.

Di Jalan Soekarno inilah terletak lapangan Pancasila dan Taman Renungan Pancasila tempat dulu Bung Karno merenungkan Pancasila.
Di jalanan ini pula akan disterilkan untuk menyambut kedatangan Wapres Budiono, Ibu Megawati beserta Suami, dan banyak lagi pembesar lainnya.
Pedagang-pedagang akan segera dilarang berdagang di sepanjang jalan Soekarno. Tenda-tenda besar akan dibangun. Tiap sore 5000 penari terjun ke Lapangan Pancasila untuk melatih tarian Gawi, tarian persahabatan dari Ende. Anak-anak sekolah diinstruksikan untuk menjadi pagar betis. Petugas kesehatan disiagakan. Rumah sakit maupun Puskesmas, bahkan bangsal Pavillun RSUD Ende sengaja dikosongkan untuk acara tersebut.

Hiruk pikuk kota kecil ini menyambut acara besar. Kesaktian Pancasila akan diperingati di sini, di Ende. Kota kecil di tengah pulau Flores, NTT yang pada tahun 1934 - 1938  menjadi tempat pengasingan Bung Karno dan karenanya telah melahirkan butir-butir kebhinekatunggalikaan dan kebangsaan yang disebut Pancasila

Ende sedang bersolek.

Seperti halnya kita menjelang hari raya atau hajatan di rumah maka akan buru-buru mempercantik rumah. Jendela digantungi korden terbaik, taplak meja diganti, kursi-kursi dibersihkan dari debu, bunga-bunga dibersihkan dan biberi vas baru.
Semua bukan untuk kenyamanan kita saja tapi untuk para tamu. Ya, tetamu yang akan berkunjung. Sebagai tuan rumah keinginan untuk meninggalkan kesan baik di mata para tamu pasti ada.

Ende sedang bersolek. Taman Renungan Pancasila sedang direnovasi, Lapangan Pancasila dipercantik dengan cat baru, Rumah Pengasingan Bung Karno sudah dipugar sejak setahun yang lalu. Bukan semata untuk memperindah apa yang menjadi milik kita, segala perbaikan ini terkait kedatangan tetamu besar dari Ibu Kota. Pekerja taman renungan lembur hingga malam mengejar deadline yang sepertinya tidak akan selesai tepat waktu sebelum hari H nanti, tanggal 1 Juni.


Buat saya sih persetan dengan tujuan. Yang penting Ende menjadi lebih baik dan Pemerintah atau warga Ende sendiri mempu mempertahankan bahkan meningkatkan kecantikan yang sudah ada.

Mungkin kedepannya Pemerintah tidak sekedar melakukan renovasi saat tetamu akan datang berkunjung dan senantiasa melakukan pengawasan atau pemeliharaan atas apa yang sudah ada. 
Mungkin masyarakat Ende sendiri memulai kebiasaan tidak membuang sampah, melempari lampu-lampu taman, mencoret pagar. 

"Ini kantong kreseknya bawa pulang saja, atau itu di sebelah sana ada kantor Pertamanan dan Perkotaan, di sana ada kotak sampah," kata saya pada sepupu yang masih belum mengerti saat saya suruh memunguti kembali kantong kresek yang terlanjur ia buang di trotoar jalan Soekarno
Saya dan sepupu pulang setelah memunguti kantong berisi gorengan kami, sambari dilihat oleh beberapa muda-mudi di sekitar. Semoga mereka bisa berlaku sama setelah kami pulang.


27 Mei 2013

Prinsip dan Sponsorship

2 komentar

Mau bikin event, sponsornya mana?


Beberapa hari yang lalu ada event musik di kota kecil ku, Ende. Event ini mendatangkan artis ibukota yang  terbilang terkenal.
Di kota sekecil ini jika ada event musik apalagi yang gratisan maka manusia akan tumpah ruah memadati venue, apalagi ketika tersiar kabar artis ibukota yang sudah belasan tahun berkiprah di dunia musik Indonesia. tua muda, kecil besar, tumpah ruah.
Terlepas dari animo masyarakat akan hiburan, event-event musik besar di kota ini rata-rata disponsori oleh produsen rokok.
kenapa harus produsen rokok?
Apa cuma produsen rokok yang sanggup melirik daerah kecil untuk dijadikan sasaran pemasaran?
Apa masyarakat daerah hanya mengkonsumsi rokok?

Ini sekedar pertanyaan untuk kontemplasi.

Event yang dekat dengan dunia anak muda kok ya harus disponsori oleh sesuatu yang jelas-jelas merugikan kesehatan. Seandainya saja ada brand lain yang memperhatikan ini. Kalau saja mereka mau seperti produsen rokok, alangkah baiknya. Tidak produsen rokok melulu yang menjadi sponsor.
Ada sponsor-sponsor lokal yang juga terlihat di beberapa event di kota ini, tapi tidak dalam skala mendatangkan artis papan atas dan konsernya tanpa tiket masuk alias gerateees!

Waktu saya ngetwit tentang ini berbagai tanggapan muncul. Apalagi tentang bagaimana komunitas yang punya prinsip 'anti sponsorship rokok' ingin mengadakan event jatuh bangun mencari sponsor.
Beberapa menyarankan mencari provider telekomunikasi sebagai sponsor, ada juga softdrink, produsen sepeda motor dsb.
Provider cuma ada dua di sini, satunya merajalela dan sudah merasa tidak begitu untuk memberi sponsor dalam event apapun. Oh ya, kami (komunitas) juga pernah bekerjasama dan berakhir percuma.
Sementara itu provider satu lagi tidak begitu banyak peminat, bts hanya ada satu di dalam kota.
Kami juga pernah mencoba proposal di perusahaan-perusahaan/instansi di daerah tapi ya begitulah.
Ah, atau mungkin event yang ditawarkan tidak membawa keuntungan bagi mereka jadinya tidak mendapat tanggapan.

Mwihihiii IMHO :p

11 Mei 2013

Ketika #1MugBeras Masuk Linimassa 3

7 komentar
Berbuat baik tanpa mengharapkan apa-apa akan melahirkan kebaikan yang lain. Kira-kira seperti itu.

#1MugBeras.

Ketika donasi berupa rupiah terganjal tanggal yang menua, gaji yang tak kunjung diterima, setidaknya simpanan beras di rumah masing-masing masih ada. Satu mug akan menjadi berkarung-karung beras jika kita mau. Maka perut lapar pengungsi bisa sedikit teratasi. 

Sejak awal memutuskan untuk membantu pengungsi bencana eruspsi Rokatenda bulan Februari lalu, saya dan teman-teman Flobamora Community tidak mengharapkan apa-apa selainkan kebaikan untuk hidup pengungsi. Kita menyuarakan melalui apa yang kita bisa suarakan. Mengumpulkan apa yang bisa dikumpulkan. Menerima segala bentuk bantuan yang masuk.

Meskipun demikian yang kita sangka berbuat baik kadang masih tidak bisa diterima oleh oranglain.
Jangan berpikir bahwa kita tidak kritikan pedas, cibiran mengenai aksi kita, bahkan suara kita terbentur aksi-aksi lain; tidak diperhatikan!