28 Mei 2013

Ende Menjelang Peringatan Kesaktian Pancasila

Bung Karno merenung di bawah pohon sukun, saya merenung di bawah Tugu Gempa


Suatu malam minggu yang tidak biasa, saya duduk di bawah Tugu Peringatan Gempa '92 di Jalan Soekarno. Hanya ingin duduk merasakan geliat keramaian kota kecil ini. Ditemani sepupu dan sekantung pisang goreng yang dibelikan pacanya.
Jalan Soekarno memang ramai, baik siang ataupun malam. Jika siang ramai dengan aneka es; es campur, es kelapa muda, es bubur, rujak dll, malam akan ramai ramai segala macam gorengan, bakso, tahu tek, jagung bakar, kacang goreng, kembang gula hingga pasangan kekasih ada di sana.

Di Jalan Soekarno inilah terletak lapangan Pancasila dan Taman Renungan Pancasila tempat dulu Bung Karno merenungkan Pancasila.
Di jalanan ini pula akan disterilkan untuk menyambut kedatangan Wapres Budiono, Ibu Megawati beserta Suami, dan banyak lagi pembesar lainnya.
Pedagang-pedagang akan segera dilarang berdagang di sepanjang jalan Soekarno. Tenda-tenda besar akan dibangun. Tiap sore 5000 penari terjun ke Lapangan Pancasila untuk melatih tarian Gawi, tarian persahabatan dari Ende. Anak-anak sekolah diinstruksikan untuk menjadi pagar betis. Petugas kesehatan disiagakan. Rumah sakit maupun Puskesmas, bahkan bangsal Pavillun RSUD Ende sengaja dikosongkan untuk acara tersebut.

Hiruk pikuk kota kecil ini menyambut acara besar. Kesaktian Pancasila akan diperingati di sini, di Ende. Kota kecil di tengah pulau Flores, NTT yang pada tahun 1934 - 1938  menjadi tempat pengasingan Bung Karno dan karenanya telah melahirkan butir-butir kebhinekatunggalikaan dan kebangsaan yang disebut Pancasila

Ende sedang bersolek.

Seperti halnya kita menjelang hari raya atau hajatan di rumah maka akan buru-buru mempercantik rumah. Jendela digantungi korden terbaik, taplak meja diganti, kursi-kursi dibersihkan dari debu, bunga-bunga dibersihkan dan biberi vas baru.
Semua bukan untuk kenyamanan kita saja tapi untuk para tamu. Ya, tetamu yang akan berkunjung. Sebagai tuan rumah keinginan untuk meninggalkan kesan baik di mata para tamu pasti ada.

Ende sedang bersolek. Taman Renungan Pancasila sedang direnovasi, Lapangan Pancasila dipercantik dengan cat baru, Rumah Pengasingan Bung Karno sudah dipugar sejak setahun yang lalu. Bukan semata untuk memperindah apa yang menjadi milik kita, segala perbaikan ini terkait kedatangan tetamu besar dari Ibu Kota. Pekerja taman renungan lembur hingga malam mengejar deadline yang sepertinya tidak akan selesai tepat waktu sebelum hari H nanti, tanggal 1 Juni.


Buat saya sih persetan dengan tujuan. Yang penting Ende menjadi lebih baik dan Pemerintah atau warga Ende sendiri mempu mempertahankan bahkan meningkatkan kecantikan yang sudah ada.

Mungkin kedepannya Pemerintah tidak sekedar melakukan renovasi saat tetamu akan datang berkunjung dan senantiasa melakukan pengawasan atau pemeliharaan atas apa yang sudah ada. 
Mungkin masyarakat Ende sendiri memulai kebiasaan tidak membuang sampah, melempari lampu-lampu taman, mencoret pagar. 

"Ini kantong kreseknya bawa pulang saja, atau itu di sebelah sana ada kantor Pertamanan dan Perkotaan, di sana ada kotak sampah," kata saya pada sepupu yang masih belum mengerti saat saya suruh memunguti kembali kantong kresek yang terlanjur ia buang di trotoar jalan Soekarno
Saya dan sepupu pulang setelah memunguti kantong berisi gorengan kami, sambari dilihat oleh beberapa muda-mudi di sekitar. Semoga mereka bisa berlaku sama setelah kami pulang.


2 komentar:

Yudith Ngga'a mengatakan...

tuk nyambut tamu yang cuma 3 jam saja rumah dipercantik dari setahun, sebulan, seminggu, sehari yang lalu... hebat yah... heheheee:D setuju ma Zya, sadar dari diri sendiri dulu, dari hal kecil seperti membuang sampah... MERDEKA!!!

fauwzya mengatakan...

Merdeka! Mhueheh..
Kebiasaan kita, kalo belom ada kepentingan belom berbenah, kaka. :D

Poskan Komentar