14 Januari 2014

Apa yang Salah dengan Puisi?

0 komentar


Belakangan saya memang semakin dekat dengan puisi. Mulai banyak menggali tentang puisi dan mengagumi karya penyair-penyair muda NTT yang inspiratif.
Saya mulai menemukan panggung yang hilang meski saya sendiri bukan penyair. Mulai membaca puisi di hadapan teman sastrawan Dusun Flobamora dan Malam Puisi Ende membuat saya kembali bersemangat. Tapi masih enggan membaca puisi karya sendiri walau hubungan saya dengan puisi sudah terbilang lama. :p Sering saya mengacuhkannya meski sudah mengenalnya sejak zaman ‘buah tomat’. Masa sekolah dasar saya kadang dipilih untuk membacakan puisi atau berdeklamasi. Itulah awal mula saya tampil di depan teman-teman, selain saat ujian kesenian menyanyikan sebuah lagu wajib *karena suara saya yang ketawa saja fals saya paling susah disuruh tampil nyanyi*. Beruntunglah si buah tomat yang menjadi dasar sebagian (besar) anak sekolah dalam mengapresiasi puisi sedari dini. Semoga guru-guru SD masih dan terus memacu muridnya untuk mencintai puisi. 

Apa yang Salah dengan Puisi (di social media)?
Social media bermunculan. Puisi-puisi saya simpan di sana. Setelah melewati masa berpuisi di mading sekolah dan radio lokal, tentu saja . Entah ada yang baca ataupun tidak, saya tidak begitu memusingkan hal itu. Puisi bagi saya adalah pelega tenggorokan. Mungkin lisan tidak pandai menyatakan sesuatu secara langsung, tapi puisi bisa. Tidak secara gamblang tapi cukup untuk mewakilkan. Tidak peduli mungkin bagi orang lain itu hanya sampah atau mungkin buat menambah pengikut.
Banyaknya penyair cyber yang menjadi terkenal  membuat penyair yang sudah besar pun terseret arus masuk dalam pusaran; berpuisi di social media.  Tapi tidak sedikit yang mengolok-olok yang berpuisi di dunia maya. Puisi-puisi sampah dsb. Apakah berpuisi mesti harus di buku? Ah, kasihan yang tidak punya modal untuk mencetak buku. Padahal berpuisi di dunia maya bisa menjadi jalan untuk ditemukan penerbit juga kan? Itu penyair cyber juga bisa menelurkan buku puisi kok. :D

Apa yang Salah dengan Puisi?
Suatu ketika seorang penyair tersandung masalah; tindak pemerkosaan. Masyarakat kita yang reaksioner menarik kesimpulan bahwa puisi adalah rayuan, gombalan para penciptanya untuk gagah-gagahan. Para kritisi menyalahkan sastra, menyalahkan puisi. Saya sedih. Padahal bukan salah puisi. Ia hanya menggunakan puisi untuk kehendak buruknya. Mungkin ekspektasi masyarakat sudah menganggap penyair sebagai figur dengan moralitas yang tinggi layaknya pemuka agama (barangkali)

Apalah arti puisi?
Sekilas pernah membaca seseorang yang mengatakan bahwa puisi itu tidak berarti apa-apa. Hak semua orang untuk berpendapat. Termasuk berpendapat yang menentang kecintaan orang lain. Mereka mungkin belum tahu ada puisi yang melahirkan pencekalan, penculikan dan penahanan oleh Pemerintah karena mampu menghimpun kekuatan pikiran dan pergerakan. Mereka juga mungkin buta akan puisi yang melegenda hingga bahkan tulang penulisnya sudah menyatu dengan tanah tetapi masih dicetak di atas kertas dan disuarakan di atas panggung besar.
Mungkin mereka tidak pernah merasakan jatuh cinta karena dipersembakan sebuah romansa dari seseorang yang dikasihi(?).

Apa yang Salah dengan Profesi dan Puisi?
Pernah suatu ketika saat saya mengikuti wawancara psiko oleh seorang psikolog, beliau bertanya tentang kegiatan di luar dunia kerja. Saya menjawab bahwa membaca puisi salah satunya.
Dengan wajah penuh heran beliau bilang, “Seorang perawat membaca puisi?!”
Untunglah waktu itu jawaban saya adalah penilaian yang akan diisi di lembaran ceklistnya padahal saya ingin sekali menjawab: “Apa ada yang salah dengan puisi? Presiden yang mantan tentara saja bisa jadi penyanyi. Ibnu Sina atau Avicena yang dikenal dalam dunia kedokteran juga seorang penyair. Bahkan Tuhan adalah  maha penyair, pada kitabNya tersusun atas ayat-ayat puitis nan indah.”

Jadi apa yang salah dengan puisi?