11 Januari 2015

Guruku, Postinganmu!

Menjelang dini hari hilang kantuk gara-gara facebook. Dan saya rasa saya perlu menulis ini. Demi kebaikan saya dan yang lainnya.

Sebuah postingan foto oleh seorang guru di Ende, yang entah bagaimana berteman di fb tapi tidak saling kenal, bikin senewen. 
Tampak dalam foto 5 orang siswa sedang berlutut di luar kelas mengenakan seragam pramuka, ada yang memalingkan wajahnya dari jepretan kamera, ada yang menutupnya dengan tangan, ada yang pasrah menatap lurus ke depan. Foto ber-caption 'D keluarin' itu memaksa saya untuk ikut berkomentar dan menulis ini.
Saya benar-benar tidak tahu apa kesalahan siswa tersebut. Dan saya tidak sedang mencoba membela mereka.
Yang saya tidak setuju adalah perilaku guru tersebut menghukum lalu memposting di sosial media. Ini bukan soal gagah-gagahan bahwa pendidik berhak menghukum murid yang salah, atau mengikuti ajaran agama yang membolehkan hukuman sebagai didikan, melainkan bijak dalam mendidik serta menggunakan sosial media. 

Masih tidak mengerti dengan pilihan hukuman 'berlutut' lalu memposting dengan alasan biar jera, seperti guru tersebut beralasan di kolom komentarnya.

Jera? Jera dari mana???

Seseorang tolong jelaskan pada saya. 

Posting foto murid sendiri yang lagi dihukum itu apa tidak menyalahi UU ITE? 
Apa pelajaran apa yang didapat oleh siswa  tersebut, selain dari jenis cyberbully oleh gurunya sendiri? 
Apakah itu tidak menandakan kegagalan guru dalam mengatasi para murid? Apa tidak menandakan ketiadaan 'think before posting' sang guru?

Saya analogikan seperti dokter yang memposting foto pasiennya sendiri, pasien gagal setelah tindakan, tanpa disamarkan, bahkan (mungkin) tanpa izin si pasien. Kira-kira begitu. 

Sangat disayangkan.
Nah, bagaimana perasaan orangtua atau keluarga siswa yang melihat postingan itu? Sakit pasti iya. Saya yang bukan siapa-siapa saja merasa geram. 
Bahkan foto atau tayangan kriminal cilik di media massa saja disamarkan, ini anak sekolah yang mungkin sedikit nakal di sekolah disebarluaskan ke jejaring sosial layaknya tersangka pelaku kriminal. Sepertinya mereka tidak cukup dengan hukuman berlutut tapi perlu dihukum di dunia maya juga.


"Guruku. engkau penyuluh ulung.. pembawa terang, pengusir gelap..."
Jadi teringat pada bait-bait puisi yang dulu saya deklamasikan di Hari PGRI waktu duduk di bangku SD, saat guru-guru saya belum mengenal internet apalagi facebook. 
Guruku, postinganmu.
Betapa kasihannya dunia pendidikan jika hal ini terjadi dan berulang (semoga tidak). Betapa kasihannya saat guru guru di tempat lain menggunakan sosial media sebagai sarana interaksi bahkan belajar mengajar bersama muridnya sementara kita masih seputar posting foto hukuman.












0 komentar:

Posting Komentar