17 Februari 2015

Reba; Upacara yang Penuh Sukacita

Adalah Reba sebuah tradisi upacara yang diselenggarakan secara turun temurun dari leluhur pada masyarakat Kabupaten Ngada khususnya di kecamatan Bajawa, Aimere, Jerebuu, Inerie, Mangulewa, Golewa dan sekitarnya. Upacara ini diadakan setiap tahun baru, tepatnya di bulan Januari atau Februari dengan tanggal yang berbeda di setiap kampung adat.


Tarian Ouwi
*correct me if i'm wrong
Tujuan upacara yang sering juga disebut pesta adat ini diadakan bukan semata hura-hura sambil minum 'moke' arak lokal yang sudah menjadi minuman khas di upacara adat di Flores dan menari, namun sebagai titik refleksi, kontemplasi serta reuni masyarakat. Reba dibuka oleh upacara doa sebagai penghargaan terhadap leluhur yang sudah lama tiada, serta  dilanjutkan dengan pembicaraan adat yang berisi masalah yang dihadapi selama setahun yang lalu juga rencana-rencana yang akan dilakukan setahun mendatang. Pembicaraan adat ini dilakukan baik secara umum maupun di dalam suatu keluarga yang sudah berkumpul dengan memminta petunjuk dari tetua adat ataupun tokoh agama.  Walaupun anak turunan sudah berpindah domisili di desa yang lain pada saat Reba diadakan mereka harus menghadiri prosesi yang setiap periodenya diadakan sekitar 3-4 hari.
Masyarakat Ngada selain sebagai pemeluk Katholik yang taat juga tetap menjunjung tradisi dan kepercayaan yang diturunkan oleh nenek moyang. Percaya bahwa nasib baik dan buruk yang timbul juga ada sebab akibat dari leluhur. Siapa yang melanggar ketentuan-ketentuana dat akan mendapat malapetaka dan siapa yang menjalankannya akan mendapatkan rejeki.
Sehari sebelum perayaan Reba dimulai, dilaksanakan upacara pembukaan Reba (su‘i uwi). Pada malam su‘i uwi dilakukan acara makan minum bersama (ka maki Reba) sambil menunggu pagi. Pada pagi harinya, ketika upacara berlangsung, para tamu disediakan makanan dan minuman yang sudah matang dan siap dimakan. Reba adalah open house se-kampung! Semua rumah disediakan makanan dan minuman dan membebaskan siapa saja untuk datang dan makan bersama dalam suka cita. selama Reba berlangsung dapur terus mengebul dan makasakan harus tetap ada untuk para tamu.
FYI, untuk yang Muslim jangan kecewa karena sebagian makanan yang tersedia adalah haram. Pengalaman saya mengikuti acara ini hanya makan nasi putih sebagai penghormatan kepada tuan rumah. Ada banyak pantangan, salah satunya tidak boleh menolak ajakan makan jika diundang oleh tuan rumah. Namun masyarakat sudah cukup maklum kalau tamunya hanya bisa makan nasi, dan mereka meminta maaf. Tidak ada paksaan untuk mengkonsumsi daging haram dan meminum 'moke'. Living in harmony, yeah! ^_^
 
antara nari antara takut parangnya kelepasan :'D
 

 Selama upacara Reba berlangsung diiringi oleh tarian para penari yang menggenggam pedang panjang (sau) dan tongkat warna-warni yang pada bagian ujungnya dihiasi dengan bulu kambing berwarna putih (tuba). Sebagai pengiring tarian adalah alat musik gesek berdawai tunggal yang terbuat dari tempurung kelapa atau juga dari labu hutan. Saya beruntung karena sempat diajak untuk menari dan dipinjamkan asesoris tarian oleh masyarakat Langa, saat berkunjung ke Reba di kecamatan Bajawa tepatnya di kampung Langa-sekitar 30 menit dari pusat kota Bajawa. Gerakan tarian maju mundur diiringi teriakan-teriakan penggembira dari bahasa asli Bajawa. Semua orang bersukacita di Reba. Makanan minuman melimpah, tarian, doa dihaturkan untuk semesta. Kalau berkunjung ke kabupaten Ngada di bulan Januari Februari silakan mampir menari di Reba


Uge kampung Langa ^_^
*uge artinya gadis*

 

0 komentar:

Posting Komentar